Jepang memimpin uji klinis obat regenerasi gigi pertama di dunia—apa artinya bagi jutaan orang yang kehilangan gigi?
JAKARTA - Bayangkan sebuah dunia di mana kehilangan gigi bukan lagi masalah permanen. Tidak perlu lagi pasang implan mahal, tidak perlu gigi palsu yang tidak nyaman. Cukup dengan satu suntikan obat, gigi baru akan tumbuh secara alami di mulut Anda—seperti ketika Anda masih kecil dulu.Mimpi yang terdengar seperti fiksi ilmiah ini kini semakin dekat dengan kenyataan. Para peneliti Jepang sedang melakukan uji klinis manusia pertama di dunia untuk obat yang dirancang khusus menumbuhkan kembali gigi manusia yang hilang. Jika berhasil, revolusi kedokteran gigi ini bisa tersedia untuk publik pada tahun 2030—hanya sekitar 4 tahun lagi.
Terobosan dari Negeri Sakura
Di Rumah Sakit Universitas Kyoto, sebuah eksperimen medis bersejarah tengah berlangsung. Sebanyak 30 pria dewasa berusia 30 hingga 64 tahun yang kehilangan minimal satu gigi menjadi peserta uji klinis Fase I. Mereka menerima suntikan intravena obat bernama TRG035—antibodi monoklonal yang dikembangkan khusus untuk memicu pertumbuhan gigi baru.
Dr. Katsu Takahashi, dokter gigi sekaligus ilmuwan yang memimpin penelitian ini dari Kitano Hospital di Osaka, telah mengejar mimpi ini sejak tahun 1990-an. Pengalaman klinisnya menangani anak-anak dengan kondisi bawaan tanpa gigi (anodontia kongenital) membuatnya bertekad mencari solusi permanen—bukan sekadar gigi palsu, melainkan gigi alami yang tumbuh kembali.
"Selama ini tidak ada pengobatan yang memberikan penyembuhan permanen," ujar Dr. Takahashi dalam pernyataannya. "Kami merasa harapan masyarakat terhadap pertumbuhan gigi sangat tinggi."
Rahasia di Balik Protein USAG-1
Kunci dari terobosan ini terletak pada pemahaman mendalam tentang protein bernama USAG-1 (Uterine Sensitization-Associated Gene-1). Protein ini secara alami menghambat perkembangan gigi dengan memblokir sinyal BMP (Bone Morphogenetic Protein)—jalur biologis yang krusial untuk pembentukan gigi.
Manusia sebenarnya memiliki potensi untuk menumbuhkan set gigi ketiga. Namun, protein USAG-1 ini bekerja seperti "tanda berhenti" biologis yang menjaga tunas gigi tetap tidak aktif seumur hidup. Inilah yang membedakan manusia dari hewan seperti hiu atau reptil yang bisa terus menumbuhkan gigi sepanjang hidup mereka.
Tim peneliti dari Universitas Kyoto menemukan bahwa dengan menetralkan USAG-1 menggunakan antibodi, mereka bisa mengaktifkan kembali tunas gigi yang dorman. Pada 2021, studi terobosan mereka yang dipublikasikan di jurnal Science Advances menunjukkan hasil mencengangkan: tikus dengan kelainan genetik yang menyebabkan tidak tumbuh gigi bisa menumbuhkan gigi lengkap—dengan akar, email, dan jaringan pulpa—setelah diberi antibodi anti-USAG-1.
Yang lebih penting, gigi yang tumbuh bukan gigi artifisial. Ini adalah gigi biologis fungsional yang sama dengan gigi alami.
Studi lanjutan pada ferret (sejenis musang), yang pola giginya mirip manusia, mengkonfirmasi mekanisme ini efektif pada hewan yang lebih mendekati fisiologi manusia.
Perjalanan Menuju Klinik
Didorong oleh hasil yang menjanjikan, Dr. Takahashi bersama rekan-rekannya mendirikan perusahaan bioteknologi Toregem Biopharma pada 2020. Perusahaan ini mengembangkan TRG035, kandidat obat antibodi pertama di dunia yang dirancang khusus untuk regenerasi gigi.
Uji klinis Fase I yang dimulai September 2024 berfokus pada keamanan obat. Selama 11 bulan, para peneliti akan memantau efek samping, menentukan dosis yang tepat, dan mengamati tanda-tanda awal efektivitas. Kabar baiknya, tidak ada efek samping yang dilaporkan dalam studi hewan sebelumnya—keunggulan kritis untuk mendapat persetujuan regulasi.
Jika Fase I menunjukkan hasil positif, Kitano Hospital akan melanjutkan ke uji Fase II pada 2025-2027. Target peserta adalah anak-anak usia 2-7 tahun dengan anodontia kongenital (lahir tanpa empat gigi atau lebih). Populasi ini dipilih karena rahang mereka masih berkembang, memberikan kondisi optimal untuk pertumbuhan gigi.
Fase III akan menguji efektivitas pada populasi lebih luas mulai 2027-2029. Jika semua berjalan lancar, target ketersediaan komersial adalah 2030—dimulai dari kasus kongenital, kemudian meluas ke kehilangan gigi akibat kecelakaan, karies, atau penyakit periodontal.
Dr. Takahashi menegaskan visinya: "Meskipun saat ini perawatan difokuskan pada pasien dengan defisiensi gigi kongenital, saya berharap pengobatan ini akan tersedia untuk siapa saja yang kehilangan gigi."
Teknologi Pendukung Lainnya
TRG035 bukan satu-satunya pendekatan yang sedang dikembangkan. Beberapa institusi riset terkemuka dunia juga mengejar teknologi komplementer yang meningkatkan kemungkinan regenerasi gigi alami menjadi kenyataan dalam dekade ini.
Gigi yang Ditumbuhkan di Laboratorium (King's College London)
Sejak 2013, peneliti di King's College London mengejar pendekatan berbeda: menumbuhkan gigi manusia sepenuhnya di laboratorium menggunakan hidrogel bioengineering dan sel punca.
Tantangan terbesar yang mereka hadapi adalah bahwa upaya sebelumnya gagal karena sinyal molekuler diberikan sekaligus, berbeda dengan tubuh alami di mana sinyal dilepaskan secara bertahap selama perkembangan gigi.
Pada April 2025, para peneliti mengumumkan terobosan kritis: mereka mengembangkan material hidrogel khusus yang melepaskan sinyal perkembangan secara perlahan seiring waktu. Material ini, yang dibuat bekerja sama dengan Imperial College London, pada dasarnya meniru mikrolingkungan alami di sekitar gigi yang sedang berkembang.
Dr. Ana Angelova Volponi mencatat bahwa gigi yang ditumbuhkan di lab akan "beregenerasi secara alami, berintegrasi dengan rahang sebagai gigi asli. Mereka akan lebih kuat, lebih tahan lama, dan bebas dari risiko penolakan."
Regenerasi Dentin dengan Laser (Harvard)
Peneliti Harvard mendemonstrasikan bahwa terapi laser intensitas rendah dapat memicu sel punca dalam pulpa gigi untuk meregenerasi dentin—jaringan keras yang membentuk sebagian besar struktur gigi. Keuntungan klinis pendekatan ini sangat besar: laser gigi sudah digunakan secara rutin dalam kedokteran gigi, sehingga hambatan untuk translasi klinis relatif rendah.
Teknologi Bioprinting 3D
Pencetakan biologis tiga dimensi menggunakan bio-tinta yang terdiri dari sel punca dan bahan biokompatibel untuk mencetak struktur gigi dengan presisi luar biasa. Peneliti telah mencetak jaringan mirip gigi di laboratorium, dan aplikasi klinis masa depan bisa melibatkan pembuatan gigi kustom selama satu kali kunjungan pasien.
Mengapa Ini Sangat Penting?
Kehilangan gigi mempengaruhi jutaan orang secara global. Di Indonesia sendiri, menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), prevalensi masalah gigi dan mulut mencapai 57,6% dari populasi. Perawatan saat ini memiliki keterbatasan signifikan.
Implan gigi memerlukan prosedur bedah, biaya jutaan hingga puluhan juta rupiah per gigi, dan akhirnya bisa gagal. Gigi palsu menyebabkan ketidaknyamanan, memerlukan penyesuaian berkala, dan tidak mengembalikan fungsi oral penuh. Jembatan gigi memerlukan modifikasi gigi sehat di sekitarnya, mengorbankan kesehatan oral jangka panjang.
Regenerasi gigi alami akan menghilangkan kompromi ini. Gigi yang diregenerasi akan terintegrasi secara biologis dengan rahang, mempertahankan propriosepsi alami (umpan balik sensorik), tahan terhadap pembusukan melalui pembentukan email alami, dan secara teoritis meregenerasi diri sepanjang hidup seperti gigi alami.
Untuk anak-anak yang lahir dengan agenesis gigi kongenital—kondisi yang mempengaruhi sekitar 1-2% populasi di negara berkembang—terapi regeneratif menawarkan martabat dan perkembangan normal. Untuk orang dewasa yang menderita trauma, kerusakan, atau kehilangan gigi terkait usia, perawatan ini menjanjikan restorasi fungsional yang tidak dapat ditandingi prostesis saat ini.
Tantangan yang Masih Ada
Meskipun optimisme tinggi, hambatan substansial masih ada sebelum ketersediaan luas. Efektivitas pada manusia harus dikonfirmasi—studi hewan memang menjanjikan, tetapi biologi oral manusia jauh lebih kompleks. Daya tahan jangka panjang juga perlu dibuktikan: gigi yang diregenerasi harus menahan dekade mengunyah, perubahan suhu, dan tekanan mekanis.
Biaya dan skalabilitas menjadi pertimbangan penting. Terapi saat ini mahal untuk dikembangkan dan diproduksi. Biaya manufaktur harus menurun untuk aksesibilitas global—terutama di negara berkembang seperti Indonesia di mana jutaan orang membutuhkan perawatan gigi terjangkau.
Jalur regulasi juga panjang. Berpindah dari Fase I ke ketersediaan umum memerlukan navigasi kerangka regulasi di berbagai negara—biasanya proses 5-10 tahun bahkan dengan penunjukan obat yatim piatu.
Harapan yang Realistis
Ketika sumber menyatakan manusia "mungkin bisa menumbuhkan gigi baru dalam 4 tahun," ini mencerminkan target tanggal (sekitar 2029-2030) ketika perawatan regenerasi gigi pertama bisa menerima persetujuan regulasi dan ketersediaan komersial terbatas.
Namun, timeline ini disertai peringatan penting. Persetujuan awal kemungkinan akan menargetkan kehilangan gigi kongenital—indikasi yang lebih sempit dari "siapa saja yang kehilangan gigi". Ketersediaan klinis luas dan keterjangkauan mungkin tertinggal persetujuan sebesar 2-5 tahun tambahan. Teknologi yang bersaing (gigi yang ditumbuhkan di lab, terapi laser) mungkin beroperasi pada timeline berbeda.
Masa Depan yang Tersenyum
Konvergensi beberapa pendekatan teknologi—farmasi (TRG035), biologis (gigi yang ditumbuhkan di lab), fisik (terapi laser), dan berbasis fabrikasi (bioprinting 3D)—membuat regenerasi gigi dalam 4-5 tahun semakin mungkin.
Ini bukan sekadar inovasi gigi inkremental, tetapi pergeseran fundamental dalam bagaimana kedokteran mendekati kehilangan jaringan yang tidak dapat diganti. Keberhasilan akan meluas melampaui kedokteran gigi ke dalam pengobatan regeneratif yang lebih luas, mendemonstrasikan bahwa mengaktifkan kembali mekanisme biologis yang dorman dapat memulihkan struktur yang pernah dianggap hilang permanen.
Untuk jutaan orang yang menderita kehilangan gigi, implikasinya transformatif. Dan bagi dunia kedokteran, ini adalah bukti bahwa batas antara fiksi ilmiah dan realitas klinis semakin tipis.
Seperti yang dikatakan Profesor Angray Kang dari Queen Mary University of London, ini adalah "maraton ultra berturut-turut" bukan sprint cepat. Tetapi untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia, garis finis terlihat jelas di cakrawala.
Tentang Uji Klinis TRG035:
- Fase I (2024-2025): 30 pria dewasa, fokus keamanan
- Fase II (2025-2027): Anak-anak dengan kehilangan gigi kongenital
- Fase III (2027-2029): Populasi skala besar
- Target Komersial: 2030
Sumber informasi: Penelitian dari Kyoto University, Toregem Biopharma, King's College London, Harvard Medical School, dan publikasi di jurnal Science Advances.

Komentar
Posting Komentar