Langsung ke konten utama

Rudal Hipersonik Oreshnik Hantam Ukraina Lagi: Senjata Mach 10 yang Nyaris Mustahil Dicegat

Dalam eskalasi terbaru konflik Rusia-Ukraina, Moskow kembali meluncurkan rudal balistik hipersonik tercanggihnya, Oreshnik, menghantam wilayah barat Ukraina pada Kamis malam hingga Jumat dini hari, 8-9 Januari 2026. Serangan ini menandai penggunaan kedua senjata kontroversial tersebut sejak pertama kali dipakai pada November 2024 lalu. Serangan masif yang melibatkan 242 drone dan 36 rudal berbagai jenis ini menewaskan sedikitnya empat orang dan melukai 25 lainnya di ibu kota Kyiv. Namun yang paling mengejutkan adalah penggunaan Oreshnik yang menargetkan infrastruktur kritis di wilayah Lviv, kota yang berjarak hanya 70 kilometer dari perbatasan Polandia, anggota NATO. Serangan Balasan atau Pesan Politik? Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim serangan ini merupakan pembalasan atas dugaan serangan drone Ukraina terhadap kediaman Presiden Vladimir Putin di Novgorod pada Desember 2025. Namun klaim ini ditolak mentah-mentah oleh pihak Amerika Serikat dan Ukraina. Pejabat CIA bahkan menya...

Iran di Ambang Revolusi: Ketika Pedagang Bazaar Memimpin Gelombang Protes Terbesar Sejak 2022

TEHERAN – Awal tahun 2026 menjadi penanda sejarah baru bagi Iran. Negara yang dikenal dengan sistem pemerintahan teokrasi ini kini menghadapi gelombang protes masif yang meluas ke 46 kota di 22 provinsi. Yang mengejutkan, gerakan ini justru dimulai oleh kelompok yang selama ini dianggap sebagai penyangga rezim: para pedagang bazaar.

Sejak 28 Desember 2025, jalanan kota-kota besar Iran dipenuhi demonstran yang awalnya memprotes krisis ekonomi, namun kini menuntut perubahan fundamental sistem pemerintahan. Hingga 2 Januari 2026, sedikitnya delapan orang tewas dan puluhan lainnya terluka akibat bentrokan dengan aparat keamanan.

Keruntuhan Rial: Pemicu Kemarahan Rakyat

Krisis bermula dari kejatuhan drastis nilai tukar mata uang rial Iran. Dalam tempo enam bulan, rial merosot 55 persen—dari sekitar 91.500 toman per dolar AS pada Juni 2025 menjadi 142.000-145.000 toman pada akhir Desember. Yang lebih mengkhawatirkan, penurunan 20 persen terjadi hanya dalam sebulan terakhir.

Dampaknya terasa langsung di kehidupan sehari-hari. Inflasi tahunan mencapai 42,2 persen pada Desember 2025, dengan harga pangan melonjak 72 persen dan biaya kesehatan naik 50 persen. Bahkan, inflasi makanan dan minuman Iran berada di posisi kedua tertinggi dunia setelah Sudan Selatan, mencapai 64,3 persen pada Oktober 2025.

"Kami tidak bisa lagi bertahan," keluh seorang pedagang di Bazaar Besar Teheran yang memilih tidak disebutkan namanya. "Margin keuntungan sudah negatif. Setiap hari membuka toko berarti rugi."

Ekonom memperingatkan inflasi bisa mencapai 44-47 persen pada akhir tahun fiskal 21 Maret 2026, dengan skenario terburuk melebihi 60 persen—ambang hiperinflasi.

Sanksi Internasional: Jeratan yang Makin Mengencang

Situasi ekonomi Iran diperparah oleh sanksi internasional yang kembali diperketat. Pada September 2025, PBB mengaktifkan kembali mekanisme "snapback", membekukan aset Iran di luar negeri dan membatasi ekspor minyak—sumber utama devisa negara yang menyumbang sekitar 25 persen dari PDB tahun 2024.

Pemerintahan Donald Trump yang kembali berkuasa turut menerapkan kebijakan "tekanan maksimum", semakin membatasi akses Iran ke pasar modal global. Proyeksi pertumbuhan PDB Iran untuk 2025 hanya 0,6 persen, turun drastis dari 3,7 persen tahun sebelumnya.

Persoalan struktural yang sudah mengakar—seperti ketergantungan pada ekspor minyak, korupsi merajalela, rendahnya produktivitas domestik, dan pelarian modal—membuat Iran semakin rapuh. Kini, diperkirakan 27-50 persen penduduk Iran hidup di bawah garis kemiskinan, meningkat signifikan dari 2022.

Dari Pemogokan Pedagang Menjadi Gerakan Politik

Protes dimulai pada 28-29 Desember ketika pedagang di Bazaar Besar Teheran dan distrik komersial Shush menutup toko mereka. Mundurnya Gubernur Bank Sentral Mohammad Reza Farzin pada 30 Desember menambah kesan krisis pemerintahan.

Pada hari ketiga, gelombang protes menyebar ke kota-kota besar lain seperti Isfahan, Shiraz, dan Mashhad. Aparat keamanan merespons dengan gas air mata dan amunisi tajam. Pemerintah bahkan memerintahkan penutupan sekolah, universitas, dan banyak bisnis secara nasional dengan dalih cuaca dingin—meski banyak yang menilai ini upaya mencegah massa berkumpul.

Dinamika berubah drastis pada 1-2 Januari. Protes meledak dari distrik komersial ke kawasan pemukiman padat penduduk Teheran seperti Naziabad, Khaksefid, Narmak, dan Tehranpars—tanda bahwa aparat keamanan kehilangan kontrol di ibu kota.

Intensitas protes meningkat eksponensial. Pada 31 Desember tercatat 31 aksi demonstrasi, naik menjadi 56 pada 1 Januari, dan mencapai 70 aksi simultan pada 2 Januari. Penyebaran geografis meluas dari 17 provinsi menjadi 22 provinsi, termasuk Provinsi Sistan dan Baluchistan yang selama ini bergolak.

"Mati Bagi Sang Diktator": Tuntutan Politik Eksplisit

Yang membedakan gelombang protes kali ini adalah transformasi tuntutan dari ekonomi menjadi politik radikal. Para demonstran menyerukan "Mati bagi sang diktator"—merujuk langsung pada Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei—dan "Turunkan Khamenei."

Beberapa demonstran bahkan menyebut era Shah dengan yel-yel "Bukan Shah, bukan Mullah" dan "Pahlavi akan kembali," menandakan penolakan terhadap rezim Islam dan monarki masa lalu.

Di Kota Qom—pusat ideologi dan basis kekuatan rezim—massa terdengar meneriakkan "Para Mullah harus pergi." Ketika penduduk di jantung kota religius secara terbuka menolak ulama yang berkuasa, legitimasi teokrasi mulai runtuh bahkan di kalangan konstituen tradisionalnya.

Pada 1 Januari, massa demonstran di Lordegan, Provinsi Chaharmahal dan Bakhtiari, menyerbu dan merusak gedung pemerintahan, kantor Yayasan Martir (Bonyad Shahid), dan gedung pengadilan—simbol penolakan terhadap aparatus ideologi dan represi rezim.

Perempuan di Garis Depan

Ciri paling mencolok dari gelombang protes ini adalah peran sentral kaum perempuan. Banyak perempuan berdiri di barisan terdepan, memimpin yel-yel "Perempuan, Kehidupan, Kebebasan." Di sejumlah lokasi, perempuan secara terbuka melepas jilbab di tempat umum—tindakan yang berisiko tinggi di Iran.

Gerakan ini didukung luas oleh mahasiswa, sopir truk, perawat, dan serikat guru, membentuk aliansi lintas profesi. Para demonstran juga menghancurkan kamera pengawas pemerintah sebagai simbol perlawanan terhadap sistem kontrol negara.

Slogan terbaru tidak hanya menyasar kepemimpinan domestik, tetapi juga kebijakan luar negeri. "Bukan Gaza, Bukan Lebanon, Nyawaku untuk Iran"—massa mengecam aliran dana ke Suriah, Lebanon, Yaman, dan Gaza sementara rakyat Iran sendiri menderita kemiskinan dan inflasi ekstrem.

Respons Pemerintah: Lunak di Permukaan, Keras di Lapangan

Presiden Masoud Pezeshkian, yang terpilih tahun 2024 dengan platform reformasi dan tata kelola baik, menyerukan dialog dan berjanji menangani "tuntutan yang sah." Namun retorikanya terdengar hambar mengingat kegagalannya memberantas korupsi atau memperbaiki taraf hidup.

Yang krusial, Pezeshkian tidak memiliki kontrol langsung atas pasukan keamanan yang berada di bawah otoritas Pemimpin Tertinggi Khamenei. Jaksa agung memperingatkan akan ada "respons tegas" terhadap upaya destabilisasi, mengancam eskalasi kekerasan.

Hingga 3 Januari, sekitar 132 orang ditangkap, dengan 77 tahanan tambahan teridentifikasi dalam beberapa hari terakhir. Sedikitnya 44 orang mengalami luka tembak dari amunisi tajam atau senjata peluru karet yang dilepaskan personel keamanan.

Yang menarik, satu anggota paramiliter Basij dilaporkan tewas dalam bentrokan di Iran barat—kematian pertama di kalangan aparat dalam gelombang ini. Ini mengindikasikan para demonstran mulai membalas dengan kekerasan, dengan laporan adanya bom molotov yang dilempar ke kendaraan keamanan dan serangan terhadap gedung pemerintahan.

Peran Pedagang Bazaar: Gema Revolusi 1979

Kepemimpinan pedagang bazaar dalam protes ini menggemakan peran penting mereka dalam Revolusi Islam 1979. Paralelisme historis ini membuat pejabat rezim khawatir bahwa legitimasi mereka runtuh bahkan di kalangan kelas komersial "moderat" yang biasanya bersikap hati-hati.

"Ketika pedagang bazaar turun ke jalan, rezim harus khawatir," kata seorang pengamat politik Timur Tengah. "Mereka adalah tulang punggung ekonomi dan secara historis menjadi barometer sentimen publik."

Trump dan Ketegangan Internasional

Situasi makin memanas ketika Donald Trump pada 2 Januari menyatakan Amerika Serikat akan campur tangan jika Iran merespons protes dengan kekerasan. Trump menulis di Truth Social, "Jika Iran menembak dan membunuh demonstran damai dengan kejam, yang merupakan kebiasaan mereka, Amerika Serikat akan datang menyelamatkan. Kami siap sedia dan siap beraksi."

Pernyataan Trump mendapat kecaman keras dari pemerintah Iran. Menteri Luar Negeri Iran menyebut ancaman Trump sebagai "gegabah dan berbahaya." Pejabat keamanan senior Iran membalas dengan memperingatkan bahwa pasukan Amerika di kawasan bisa menjadi sasaran jika Washington campur tangan.

Sementara itu, Tiongkok dan Rusia—yang selama ini dipandang sebagai mitra strategis Iran—memilih diam. Beijing fokus pada kepentingan energi dan Jalur Sutra, sementara Moskow tersedot penuh oleh perang di Ukraina.

Tiga Skenario Kritis

Para analis mengidentifikasi tiga dinamika ambang batas yang bisa memicu konsesi rezim atau eskalasi katastrofik:

Pemogokan Sektor Minyak: Penghentian kerja oleh pekerja minyak—sumber devisa terbesar Iran—dapat menciptakan tekanan ekonomi yang tidak tertahankan dalam hitungan hari.

Pembelotan Pasukan Keamanan: Penolakan anggota Garda Revolusi atau Basij untuk menjalankan perintah akan menandakan rezim kehilangan monopoli atas kekuatan koersif. Ada laporan bahwa di Kota Fasa, Garda Revolusi Iran (IRGC) menolak perintah melepaskan tembakan—simbol kuat bahwa bahkan aparat keamanan mulai ragu.

Mobilisasi Massal: Data historis menunjukkan jika 3,5 persen dari 92 juta penduduk Iran (sekitar 3,2 juta orang) berkumpul bersamaan di satu lokasi, itu akan menjadi sinyal bagi kepemimpinan bahwa mereka harus mundur.

Prospek: Hari Baru atau Konfrontasi Lebih Keras?

Rezim menghadapi dilema sejati: fundamental ekonomi yang mendorong ketidakpuasan tidak bisa diselesaikan melalui aksi pasukan keamanan, namun reformasi politik yang meliberalisasi bisa mendorong tuntutan perubahan rezim. Kebuntuan struktural ini, dikombinasikan dengan asosiasi historis pedagang dengan gerakan revolusioner, menciptakan ketidakpastian nyata tentang arah gelombang protes.

Reza Pahlavi, putra mahkota terakhir Iran, menyatakan dukungannya kepada para demonstran dan menyerukan semua warga Iran, termasuk pasukan keamanan, untuk bergabung dengan protes. Dukungan ini menambah dimensi politik yang kompleks pada gerakan yang sudah bergejolak.

Kapten tim nasional sepak bola Iran, Mehdi Taremi, turut bersuara dengan menulis, "Solusi apa yang dimiliki pejabat untuk masalah rakyat? Mereka harus mendengarkan suara rakyat dan merespons kekhawatiran bangsa Iran yang mulia."

Dengan pemakaman para korban yang berubah menjadi aksi demonstrasi sekunder—secara historis menjadi pola penting dalam memperkuat momentum—dan keterlibatan Provinsi Sistan dan Baluchistan yang menandakan penyelarasan keluhan regional dengan ketidakpuasan ekonomi, Iran berada di persimpangan sejarah.

Banyak pengamat menilai awal Tahun Baru 2026 bisa menjadi titik balik sejarah Iran. Apakah ini benar-benar fajar baru bagi Iran yang mendambakan perubahan, atau justru awal dari konfrontasi yang lebih keras dan berdarah, jawabannya sedang ditulis di jalanan kota-kota Iran—dengan tinta darah dan air mata rakyat yang sudah terlalu lama menderita.


Catatan Editor: Situasi di Iran terus berkembang dengan cepat. Informasi dalam artikel ini akurat hingga 3 Januari 2026 dan akan terus diperbarui seiring perkembangan peristiwa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tragedi Berdarah di Bondi Beach: 16 Orang Tewas dalam Serangan Teror saat Perayaan Hanukkah

SYDNEY - Pantai Bondi yang terkenal di Sydney, Australia, berubah menjadi tempat kejadian tragis pada Sabtu sore (14/12/2025) ketika dua orang bersenjata membabi buta menembaki kerumunan yang sedang merayakan hari pertama Hanukkah. Serangan yang terjadi sekitar pukul 18.47 waktu setempat ini menewaskan 16 orang dan melukai 42 lainnya, menjadikannya salah satu serangan massal paling mematikan di Australia dalam hampir tiga dekade terakhir. Detik-detik Mencekam di Archer Park Sekitar 1.000 orang telah berkumpul di Archer Park, area taman bermain di kompleks Bondi Beach, untuk menghadiri acara "Chanukah by the Sea" yang diselenggarakan oleh Chabad of Bondi. Suasana penuh suka cita tiba-tiba berubah menjadi horor ketika dua penembak mulai melepaskan tembakan ke arah kerumunan. Saksi mata menggambarkan kepanikan yang luar biasa. Danielle, seorang warga lokal yang enggan menyebutkan nama lengkapnya, berlari ke lokasi untuk mengambil putrinya yang sedang menghadiri pesta bar mit...

Tragedi Kebakaran Wang Fuk Court: 128 Tewas dalam Kebakaran Terparah Hong Kong Sejak 1948

Kebakaran yang melanda kompleks apartemen Wang Fuk Court di Tai Po menjadi bencana hunian paling mematikan di Hong Kong dalam hampir 80 tahun terakhir. Investigasi mengungkap dugaan kelalaian fatal dan korupsi dalam proyek renovasi bernilai miliaran rupiah. HONG KONG - Asap hitam mengepul tinggi ke langit Hong Kong pada sore hari Rabu, 26 November 2025. Api berkobar dengan kecepatan mengerikan, menelan tujuh dari delapan menara hunian di kompleks Wang Fuk Court, Tai Po, New Territories. Dalam hitungan jam, apa yang dimulai sebagai kebakaran kecil di perancah bambu berubah menjadi malapetaka yang menewaskan setidaknya 128 orang dan melukai puluhan lainnya. Ini bukan sekadar tragedi. Ini adalah kisah tentang kelalaian sistemik, dugaan korupsi, dan harga yang dibayar oleh warga biasa—banyak di antaranya lansia dan pekerja migran—yang percaya bahwa rumah mereka aman. Kronologi Kematian: Dari Api Kecil Menjadi Inferno Pukul 14.51 waktu setempat, Departemen Pemadam Kebakaran Hong Kong me...

Gempa Dahsyat 7,5 M Guncang Jepang, Picu Tsunami dan 51 Korban Luka

TOKYO - Guncangan dahsyat kembali melanda Negeri Sakura. Gempa bumi berkekuatan 7,5 magnitudo mengguncang pantai timur laut Jepang pada Senin malam, 8 Desember 2025, memicu peringatan tsunami dan evakuasi massal sekitar 90.000 warga. Kejadian ini mengingatkan kembali trauma gempa dan tsunami dahsyat tahun 2011 yang meluluhlantakkan wilayah Tohoku. Pusat gempa berada sekitar 80 kilometer di lepas pantai Prefektur Aomori, wilayah paling utara Pulau Honshu, pada kedalaman 54 kilometer. Badan Meteorologi Jepang (JMA) awalnya melaporkan kekuatan gempa mencapai 7,6 magnitudo sebelum direvisi menjadi 7,5. Sementara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia mencatat magnitudo 7,3 dalam analisisnya. Gempa terjadi tepat pukul 23.15 waktu setempat atau 21.15 WIB. Guncangan keras terasa hingga Sapporo, ibu kota Hokkaido, di mana alarm ponsel berbunyi memekakkan telinga untuk memperingatkan warga. Seorang reporter NHK di Hokkaido menggambarkan guncangan horizontal berlangsun...