SYDNEY - Pantai Bondi yang terkenal di Sydney, Australia, berubah menjadi tempat kejadian tragis pada Sabtu sore (14/12/2025) ketika dua orang bersenjata membabi buta menembaki kerumunan yang sedang merayakan hari pertama Hanukkah. Serangan yang terjadi sekitar pukul 18.47 waktu setempat ini menewaskan 16 orang dan melukai 42 lainnya, menjadikannya salah satu serangan massal paling mematikan di Australia dalam hampir tiga dekade terakhir.
Detik-detik Mencekam di Archer Park
Sekitar 1.000 orang telah berkumpul di Archer Park, area taman bermain di kompleks Bondi Beach, untuk menghadiri acara "Chanukah by the Sea" yang diselenggarakan oleh Chabad of Bondi. Suasana penuh suka cita tiba-tiba berubah menjadi horor ketika dua penembak mulai melepaskan tembakan ke arah kerumunan.
Saksi mata menggambarkan kepanikan yang luar biasa. Danielle, seorang warga lokal yang enggan menyebutkan nama lengkapnya, berlari ke lokasi untuk mengambil putrinya yang sedang menghadiri pesta bar mitzvah di dekat lokasi penembakan. "Saya mendengar ada penembakan jadi saya langsung berlari ke sana untuk menjemput anak saya. Saya bisa mendengar suara tembakan, saya melihat ada tubuh tergeletak di tanah," kenangnya dengan suara bergetar.
Morgan Gabriel, 27 tahun, warga Bondi yang sedang menuju bioskop terdekat, awalnya mengira suara tembakan itu adalah petasan. "Tapi kemudian orang-orang mulai berlarian ke jalan saya. Saya melindungi sekitar enam atau tujuh orang. Dua di antaranya adalah teman dekat saya, sisanya orang-orang yang kebetulan ada di jalan," ujarnya.
Menurut laporan polisi, para pelaku menembakkan sekitar 50 peluru menggunakan setidaknya satu senapan bolt-action sebelum petugas kepolisian turun tangan. Video yang beredar di media sosial menunjukkan dua penembak dengan senjata laras panjang menembak dari jembatan pejalan kaki yang mengarah ke pantai.
Korban Jiwa dari Berbagai Usia
Tragedi ini merenggut nyawa 16 orang dengan rentang usia 10 hingga 87 tahun. Empat belas korban tewas di tempat kejadian, sementara dua lainnya—seorang gadis berusia 10 tahun dan seorang pria berusia 40 tahun—menyerah pada luka-luka mereka saat dirawat di rumah sakit.
Salah satu korban termuda adalah Matilda, gadis berusia 10 tahun yang seharusnya menghabiskan hari yang indah merayakan Hanukkah bersama orang tua, adik perempuan, dan teman-temannya. Bibinya, Lina, mengenang Matilda sebagai anak yang bahagia dengan senyuman indah yang tak pernah berhenti. "Dia sangat manis, anak yang bahagia, dengan senyuman yang cantik," kata Lina dengan penuh duka.
Di antara korban juga terdapat Rabi Eli Schlanger, 41 tahun, asisten rabi di Chabad of Bondi yang menjadi penyelenggara utama acara Hanukkah tersebut, serta Rabi Yaakov Levitan, sekretaris Sydney Beth Din. Seorang warga negara Prancis bernama Dan Elkayam juga tewas dalam serangan ini, sebagaimana dikonfirmasi oleh Menteri Luar Negeri Prancis. Pemerintah Israel melaporkan bahwa satu warga negara Israel tewas dan satu lainnya terluka.
Sedikitnya 42 orang dilarikan ke berbagai fasilitas medis di Sydney, termasuk dua petugas polisi dan empat anak. Hingga Senin pagi, 27 pasien masih dirawat di rumah sakit dengan 12 orang di antaranya dalam kondisi kritis.
Pelaku: Ayah dan Anak
Komisi Polisi New South Wales, Mal Lanyon, dalam konferensi pers pada Senin (15/12) pagi waktu setempat, mengidentifikasi pelaku sebagai sepasang ayah dan anak. Sang ayah, berusia 50 tahun, ditembak mati oleh polisi di lokasi kejadian. Sementara anaknya yang berusia 24 tahun, yang kemudian diidentifikasi sebagai Naveed Akram, seorang warga negara Pakistan, ditangkap dan saat ini dalam kondisi kritis di rumah sakit di bawah penjagaan ketat polisi.
Investigasi mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa sang ayah adalah pemilik senjata api berlisensi yang telah memiliki izin selama sekitar sepuluh tahun. Penyidik berhasil mengamankan enam senjata api berlisensinya di lokasi kejadian.
Menteri Dalam Negeri Australia, Tony Burke, mengungkapkan bahwa pelaku berusia 24 tahun adalah warga negara kelahiran Australia yang pertama kali menarik perhatian badan intelijen Australia pada Oktober 2019. Perdana Menteri Anthony Albanese menjelaskan bahwa pria tersebut diperiksa karena berasosiasi dengan orang lain, namun penilaian dibuat bahwa tidak ada indikasi ancaman berkelanjutan atau ancaman bahwa ia akan terlibat dalam kekerasan.
Organisasi Intelijen Keamanan Australia (ASIO) mengonfirmasi bahwa salah satu penyerang memang dikenal oleh badan tersebut, meskipun tidak ditandai sebagai ancaman langsung.
Aksi Heroik di Tengah Kekacauan
Di tengah kekacauan dan kepanikan, seorang warga sipil tampil sebagai pahlawan. Ahmed al Ahmed, penjual buah berusia 43 tahun, muncul dari balik mobil yang diparkir dan menerjang salah satu penembak. Dalam video yang beredar luas, pria berkaos putih itu terlihat bergulat dengan pelaku dan berhasil merebut senapan, kemudian mengarahkannya kembali ke penyerang sebelum penembak itu mundur ke arah jembatan.
Al Ahmed sendiri tertembak dalam aksi beraninya, namun berhasil selamat. Tindakannya dipuji oleh para pejabat Australia dan bahkan mendapat pengakuan dari Presiden AS Donald Trump yang menyatakan bahwa aksi al Ahmed "menyelamatkan banyak nyawa."
Komisi Polisi Lanyon memuji "keberanian luar biasa" dari para petugas dan anggota masyarakat selama serangan tersebut. "Ada banyak, banyak kisah keberanian dari anggota masyarakat dan kami tahu bahwa sejumlah orang masih hidup sekarang karena tindakan warga yang tidak bersalah," katanya.
Bom dan Perluasan Penyelidikan
Penyelidikan mengungkap bahwa ancaman tidak berhenti pada serangan tembak-menembak. Polisi menemukan alat peledak improvisasi (IED) di dalam kendaraan milik salah satu tersangka yang diparkir di Campbell Parade, jalan utama yang sejajar dengan Bondi Beach. Perangkat berbahaya tersebut berhasil diamankan dan dinonaktifkan oleh tim penjinak bom New South Wales.
Sebagai bagian dari penyelidikan komprehensif, aparat penegak hukum juga melakukan penggeledahan di properti-properti di daerah Bonnyrig dan Campsie untuk mengumpulkan lebih banyak bukti terkait serangan teror ini.
"Aksi Antisemitisme Murni"
Otoritas Australia dengan tegas menyatakan kejadian ini sebagai serangan teroris. Perdana Menteri Anthony Albanese secara eksplisit menyatakan bahwa para penembak "dengan sengaja menargetkan komunitas Yahudi pada hari pertama Hanukkah" dan menggambarkan insiden tersebut sebagai "tindakan kejahatan murni" dan "antisemitisme murni."
Dalam kunjungannya ke Bondi Beach pada Senin pagi untuk meletakkan bunga di dekat lokasi serangan, Albanese mengatakan, "Apa yang kita saksikan kemarin adalah tindakan kejahatan murni, tindakan antisemitisme, tindakan terorisme di tanah air kita di lokasi ikonik Australia. Komunitas Yahudi saat ini sedang berduka. Hari ini, seluruh rakyat Australia memeluk mereka dan berkata, kami berdiri bersama kalian. Kami akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk memberantas antisemitisme. Ini adalah momok, dan kami akan memberantasnya bersama-sama."
Albanese juga mengumumkan bahwa bendera akan dikibarkan setengah tiang pada hari Senin sebagai bentuk berkabung nasional atas "hari kelam dalam sejarah negara kita."
Sifat serangan yang ditargetkan ini—terjadi selama perayaan hari raya Yahudi yang besar—menjadi faktor kunci dalam penunjukan terorisme. Fakta bahwa acara tersebut diiklankan secara terbuka di media sosial dan dihadiri oleh keluarga-keluarga yang merayakan hari suci mereka menunjukkan bahwa pelaku dengan sengaja memilih target untuk memaksimalkan dampak terhadap komunitas Yahudi.
Respons Internasional dan Komunitas Muslim
Serangan ini memicu kecaman dari para pemimpin dunia dan pemerintahan di seluruh dunia, termasuk Inggris, Italia, Iran, Qatar, dan Amerika Serikat. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyebut penembakan itu sebagai "serangan mematikan yang keji terhadap keluarga-keluarga Yahudi."
Presiden Israel Isaac Herzog menyampaikan kecamannya dalam sebuah acara di Yerusalem. "Saudara-saudara kita di Sydney, Australia, telah diserang oleh teroris keji dalam serangan yang sangat kejam terhadap orang-orang Yahudi yang pergi menyalakan lilin Hanukkah pertama," kata Herzog. Ia juga mengulangi peringatan kepada pemerintah Australia untuk mengambil tindakan terhadap "gelombang besar antisemitisme yang melanda masyarakat Australia."
Presiden Prancis Emmanuel Macron turut menyatakan dukacita atas kematian warga negara Prancis dalam serangan tersebut dan menyampaikan solidaritas kepada rakyat Australia.
Dalam respons yang menunjukkan persatuan, Dewan Imam Nasional Australia, yang mewakili komunitas Muslim, menyatakan solidaritas dengan korban dan keluarga mereka, mendesak persatuan nasional. "Hati, pikiran, dan doa kami bersama para korban, keluarga mereka, dan semua orang yang menyaksikan atau terkena dampak serangan yang sangat traumatis ini," demikian pernyataan organisasi tersebut. "Ini adalah momen bagi semua orang Australia, termasuk komunitas Muslim Australia, untuk berdiri bersama dalam persatuan, kasih sayang, dan solidaritas."
Konteks Keamanan Senjata Api di Australia
Serangan ini mengguncang Australia karena negara ini telah berhasil menghindari penembakan massal sejak pemberlakuan undang-undang kontrol senjata yang ketat setelah Pembantaian Port Arthur pada tahun 1996 di Tasmania, yang menewaskan 35 orang. Tragedi itu memicu reformasi senjata api nasional yang komprehensif, menjadikan Australia memiliki salah satu regulasi senjata api paling ketat di dunia.
Bondi Beach, yang terletak sekitar 6,5 kilometer di timur pusat kota Sydney, adalah salah satu pantai paling ikonik di Australia yang dikunjungi lebih dari 2 juta turis pada tahun 2024. Pantai sepanjang sekitar 1 kilometer ini menampilkan promenade, taman bermain, gym outdoor, venue serbaguna, kolam dangkal, dan banyak pilihan makanan dan minuman.
Kejadian ini menimbulkan diskusi kembali tentang kontrol senjata dan antisemitisme yang meningkat di Australia, terutama setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 terhadap Israel dan perang Gaza yang menyusul, yang telah meningkatkan ketegangan di komunitas-komunitas di seluruh dunia.
Bondi dalam Berkabung
Pada Senin pagi, suasana di Bondi Beach sangat berbeda dari biasanya. Pantai yang biasanya ramai dengan perenang, peselancar, dan pelari pagi terlihat sepi dan dipenuhi dengan pita pembatas polisi. Petugas kepolisian dan petugas keamanan Yahudi swasta dengan earpiece berjaga di sekitar area tersebut saat para pelayat datang untuk memberikan penghormatan.
Sebuah memorial sementara dengan bunga serta bendera Israel dan Australia didirikan di paviliun Bondi, dan buku belasungkawa online pun dibuka. Warga Australia dari berbagai latar belakang datang untuk menyampaikan dukacita dan menunjukkan solidaritas dengan komunitas Yahudi.
Albanese mendesak warga Australia untuk menyalakan lilin sebagai bentuk solidaritas dengan komunitas Yahudi "untuk menunjukkan bahwa cahaya memang akan mengalahkan kegelapan—bagian dari apa yang dirayakan Hanukkah."
Halaman depan surat kabar-surat kabar besar Australia pada hari Senin menampilkan judul yang kuat dan gambar-gambar dari serangan teror Bondi Beach, mencerminkan guncangan kolektif bangsa atas tragedi yang menimpa salah satu lokasi paling dicintai di negara itu.
Perdana Menteri Albanese menyimpulkan dengan tegas, "Australia lebih kuat dari kekuatan yang melakukan ini" dan menegaskan bahwa negara "tidak akan pernah tunduk pada perpecahan dan kebencian."
Insiden ini menjadi pengingat pahit bahwa ancaman terorisme dan antisemitisme tetap menjadi tantangan yang harus terus diwaspadai dan dilawan bersama-sama oleh seluruh masyarakat.

Komentar
Posting Komentar