Penelitian besar-besaran membuktikan minuman berpemanis buatan justru lebih berbahaya bagi organ hati dibanding minuman bergula biasa
Selama ini, banyak masyarakat beralih ke minuman diet atau minuman dengan label "tanpa gula" dengan anggapan lebih sehat untuk tubuh. Namun, penelitian terkini justru mengungkap fakta mengejutkan: minuman dengan pemanis buatan ternyata berpotensi lebih berbahaya bagi kesehatan hati dibandingkan minuman bergula biasa.Studi komprehensif yang dipresentasikan pada United European Gastroenterology (UEG) Week 2025 di Berlin mengungkap temuan yang cukup mengkhawatirkan. Penelitian yang melibatkan 123.788 orang dewasa selama lebih dari 10 tahun ini menemukan bahwa konsumsi minuman berpemanis buatan atau rendah gula meningkatkan risiko penyakit hati berlemak hingga 60 persen.
Yang lebih mengejutkan, angka ini bahkan lebih tinggi dibandingkan risiko dari konsumsi minuman bergula biasa yang "hanya" 50 persen. Cukup satu kaleng saja per hari sudah dapat meningkatkan risiko tersebut secara signifikan.
"Studi kami menunjukkan bahwa minuman berpemanis buatan justru terkait dengan risiko lebih tinggi untuk penyakit hati berlemak metabolik, bahkan pada tingkat konsumsi sedang seperti satu kaleng per hari," tegas Lihe Liu, peneliti utama dari Universitas Soochow, China, seperti dilansir EtIndonesia.
Penyakit Hati Berlemak: Ancaman Diam-Diam yang Mematikan
Metabolic Dysfunction-Associated Steatotic Liver Disease (MASLD), yang sebelumnya dikenal sebagai nonalcoholic fatty liver disease (NAFLD), kini menjadi penyakit hati kronis paling umum di dunia. Kondisi ini ditandai dengan penumpukan lemak di organ hati yang dapat memicu peradangan, kerusakan jaringan, bahkan kematian.
Data menunjukkan MASLD kini memengaruhi lebih dari 30 persen populasi global, termasuk satu dari tiga orang dewasa Amerika. Di Indonesia sendiri, prevalensi penyakit hati berlemak terus meningkat seiring dengan perubahan pola makan masyarakat.
Yang paling berbahaya dari penyakit ini adalah sifatnya yang asimtomatik atau tanpa gejala pada tahap awal. Sebagian besar penderita baru menyadari kondisinya ketika sudah terjadi kerusakan signifikan, biasanya terdeteksi secara tidak sengaja melalui tes darah atau pemeriksaan pencitraan untuk keperluan lain.
Dalam penelitian UEG Week 2025, tercatat 108 partisipan meninggal akibat komplikasi penyakit hati selama periode penelitian, dengan sebagian besar adalah konsumen rutin minuman berpemanis buatan.
Sorbitol: Pemanis Populer yang Berbahaya
Riset terbaru dari Washington University di St. Louis pada November 2025 mengidentifikasi sorbitol sebagai salah satu pemanis yang paling berbahaya bagi kesehatan hati. Padahal, sorbitol digunakan dalam lebih dari 53.000 produk makanan dan minuman di seluruh dunia.
Penelitian menggunakan model ikan zebra menunjukkan mekanisme kerusakan yang spesifik: ketika sorbitol masuk ke tubuh dalam jumlah besar, zat ini akan melewati proses pencernaan normal di usus dan langsung menuju hati. Di organ tersebut, sorbitol dikonversi menjadi fruktosa, yang kemudian diubah menjadi lemak.
Akumulasi lemak inilah yang memicu peradangan dan pembentukan jaringan parut di hati, kondisi yang dikenal sebagai fibrosis hepatik. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi sirosis hingga kanker hati.
Dr. Brian DeBosch, salah satu peneliti dari Washington University, menjelaskan bahwa masalah terjadi ketika mikroba usus tidak dapat memproses kelebihan sorbitol, terutama pada orang yang mengonsumsi antibiotik atau memiliki gangguan pencernaan.
Aspartam dan Sukralosa: Merusak Sistem Detoksifikasi Hati
Penelitian yang dipublikasikan pada Juni 2025 mengungkap mekanisme lain dari kerusakan hati akibat pemanis buatan. Aspartam dan sukralosa, dua jenis pemanis yang paling umum digunakan dalam produk diet, terbukti menghambat aktivitas P-glikoprotein.
Protein ini berfungsi seperti "petugas keamanan" di sel-sel hati yang bertugas mengidentifikasi dan membuang racun sebelum merusak organ. Ketika sistem ini terganggu, racun akan menumpuk dan menyebabkan kerusakan sel secara diam-diam yang berlangsung bertahun-tahun.
Lebih jauh, gangguan pada P-glikoprotein juga mempengaruhi cara tubuh memproses obat-obatan. Hal ini berpotensi membuat obat resep menjadi kurang efektif atau justru lebih beracun bagi tubuh.
Erithritol: Bukti yang Kontradiktif
Erithritol menunjukkan gambaran yang lebih kompleks. Studi tahun 2021 menemukan bahwa pemanis ini dapat memperbaiki kondisi hati berlemak dengan mengaktivasi jalur sinyal antioksidan Nrf2, mengurangi akumulasi lemak dan stres oksidatif.
Namun, penelitian lebih baru justru menunjukkan hasil berlawanan. Studi tahun 2024 yang melibatkan 4.468 pria selama 19,1 tahun menemukan kadar erithritol serum yang tinggi berhubungan dengan peningkatan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular dan kanker.
Bahkan, peneliti dari SUNY Upstate Medical University menyebut erithritol berpotensi terkait dengan kanker hati. "Studi-studi ini cukup definitif bahwa pemanis ini menyebabkan kanker," ujar para peneliti tersebut.
Mikrobioma Usus: Kunci Kerusakan Hati
Salah satu mekanisme utama kerusakan hati akibat pemanis buatan adalah melalui gangguan pada mikrobioma usus. Minuman berpemanis buatan dapat mengubah komposisi bakteri baik di saluran pencernaan, yang kemudian memicu serangkaian masalah metabolik.
Pemanis buatan juga terbukti mengacaukan sinyal kenyang dalam tubuh, meningkatkan keinginan mengonsumsi makanan manis, bahkan memicu sekresi insulin meskipun tanpa kandungan gula. Stres metabolik yang dihasilkan inilah yang berkontribusi pada penumpukan lemak di hati, terlepas dari perubahan berat badan.
Madison Reeder, ahli gizi terdaftar dan wakil presiden operasi klinis di ModifyHealth Amerika Serikat, menegaskan bahwa temuan ini sejalan dengan berbagai penelitian lain tentang dampak negatif pemanis buatan terhadap kesehatan metabolik.
Respons Industri dan Perdebatan Ilmiah
Calorie Control Council, organisasi yang mewakili produsen makanan rendah kalori, merespons hasil penelitian ini dengan skeptis. Mereka mengkritik penggunaan model ikan zebra dalam riset sorbitol, dengan argumen bahwa hasil tersebut "tidak dapat langsung diterjemahkan pada manusia."
Pihak industri juga menekankan bahwa sorbitol telah dianggap aman oleh otoritas kesehatan global selama beberapa dekade.
Namun demikian, skala besar dari studi UK Biobank dan desain penelitian yang melibatkan subjek manusia memberikan bukti epidemiologis yang kuat. Konsistensi temuan di berbagai penelitian independen dengan metodologi berbeda semakin memperkuat basis bukti ilmiah.
Air Putih: Pilihan Terbaik untuk Kesehatan Hati
Penelitian secara konsisten menunjukkan air putih sebagai pilihan minuman paling sehat. Studi UK Biobank menemukan bahwa mengganti minuman bergula dengan air putih dapat menurunkan risiko MASLD sebesar 12,8 persen, sementara mengganti minuman diet dengan air menurunkan risiko hingga 15,2 persen.
Yang menarik, beralih antara minuman bergula dan minuman diet sama sekali tidak memberikan manfaat kesehatan, mengindikasikan bahwa kedua kategori minuman ini memiliki risiko independen terhadap kesehatan hati.
Para ahli merekomendasikan beberapa strategi perlindungan:
1. Batasi konsumsi minuman manis dan berpemanis buatan Sebisa mungkin hindari atau kurangi konsumsi kedua jenis minuman ini. Jika terpaksa mengonsumsi, batasi maksimal satu kaleng per minggu.
2. Jaga berat badan ideal Olahraga teratur dan pola makan seimbang sangat penting untuk mencegah penumpukan lemak di hati.
3. Lakukan tes fungsi hati secara berkala Bagi konsumen rutin pemanis buatan, pemeriksaan enzim hati (AST dan ALT) sangat dianjurkan untuk deteksi dini.
4. Pilih alternatif alami Jika ingin rasa manis, pilih buah-buahan segar atau madu dalam jumlah terbatas.
Peringatan WHO dan Regulasi Global
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebenarnya sudah mengeluarkan peringatan terhadap pemanis non-gula berdasarkan risiko kardiovaskular dan peningkatan angka kematian. Namun, bahan-bahan ini masih banyak digunakan dalam ribuan produk yang dipasarkan sebagai alternatif "sehat."
Di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengatur batas aman konsumsi pemanis buatan. Misalnya, sakarin maksimal 50-300 mg/kg berat badan, siklamat 500 mg/kg hingga 3 gram/kg, dan sorbitol 120 gram/kg hingga 5 gram/kg.
Namun, dengan temuan-temuan terbaru ini, sejumlah ahli kesehatan mendesak adanya evaluasi ulang terhadap regulasi keamanan pemanis buatan, khususnya yang berkaitan dengan kesehatan hati.
Kesimpulan: Waspada Terhadap "Alternatif Sehat"
Penelitian tahun 2025 secara kolektif menunjukkan bahwa pemanis tanpa gula, yang selama ini dianggap sebagai alternatif inert atau tidak berbahaya dari gula, ternyata aktif berkontribusi pada penyakit hati melalui berbagai mekanisme.
Dengan MASLD yang kini memengaruhi satu dari tiga orang dewasa Amerika dan meningkat pesat di kalangan anak-anak, identifikasi minuman berpemanis buatan sebagai faktor risiko yang dapat dimodifikasi merupakan temuan kesehatan masyarakat yang signifikan.
"Minum air sebagai pengganti kedua jenis minuman tersebut adalah cara paling aman," kata Liu, "karena menghindari beban metabolik yang dapat menyebabkan penumpukan lemak di hati."
Bukti ilmiah menyarankan bahwa penyedia layanan kesehatan harus menasihati pasien untuk membatasi minuman bergula maupun berpemanis buatan, dengan menekankan air putih sebagai pilihan paling aman untuk kesehatan hati.
Bagi masyarakat Indonesia yang semakin banyak mengonsumsi minuman kemasan, informasi ini menjadi pengingat penting bahwa label "diet" atau "tanpa gula" tidak otomatis berarti lebih sehat. Kesadaran dan pilihan bijak dalam mengonsumsi makanan dan minuman adalah kunci utama menjaga kesehatan hati dalam jangka panjang.
Sumber:
- United European Gastroenterology Week 2025, Berlin
- Washington University School of Medicine in St. Louis
- UK Biobank Study
- Journal of Agricultural and Food Chemistry
- Frontiers in Public Health

Komentar
Posting Komentar