Langsung ke konten utama

Rudal Hipersonik Oreshnik Hantam Ukraina Lagi: Senjata Mach 10 yang Nyaris Mustahil Dicegat

Dalam eskalasi terbaru konflik Rusia-Ukraina, Moskow kembali meluncurkan rudal balistik hipersonik tercanggihnya, Oreshnik, menghantam wilayah barat Ukraina pada Kamis malam hingga Jumat dini hari, 8-9 Januari 2026. Serangan ini menandai penggunaan kedua senjata kontroversial tersebut sejak pertama kali dipakai pada November 2024 lalu. Serangan masif yang melibatkan 242 drone dan 36 rudal berbagai jenis ini menewaskan sedikitnya empat orang dan melukai 25 lainnya di ibu kota Kyiv. Namun yang paling mengejutkan adalah penggunaan Oreshnik yang menargetkan infrastruktur kritis di wilayah Lviv, kota yang berjarak hanya 70 kilometer dari perbatasan Polandia, anggota NATO. Serangan Balasan atau Pesan Politik? Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim serangan ini merupakan pembalasan atas dugaan serangan drone Ukraina terhadap kediaman Presiden Vladimir Putin di Novgorod pada Desember 2025. Namun klaim ini ditolak mentah-mentah oleh pihak Amerika Serikat dan Ukraina. Pejabat CIA bahkan menya...

Gempa Dahsyat 7,5 M Guncang Jepang, Picu Tsunami dan 51 Korban Luka

TOKYO - Guncangan dahsyat kembali melanda Negeri Sakura. Gempa bumi berkekuatan 7,5 magnitudo mengguncang pantai timur laut Jepang pada Senin malam, 8 Desember 2025, memicu peringatan tsunami dan evakuasi massal sekitar 90.000 warga. Kejadian ini mengingatkan kembali trauma gempa dan tsunami dahsyat tahun 2011 yang meluluhlantakkan wilayah Tohoku.

Pusat gempa berada sekitar 80 kilometer di lepas pantai Prefektur Aomori, wilayah paling utara Pulau Honshu, pada kedalaman 54 kilometer. Badan Meteorologi Jepang (JMA) awalnya melaporkan kekuatan gempa mencapai 7,6 magnitudo sebelum direvisi menjadi 7,5. Sementara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia mencatat magnitudo 7,3 dalam analisisnya.

Gempa terjadi tepat pukul 23.15 waktu setempat atau 21.15 WIB. Guncangan keras terasa hingga Sapporo, ibu kota Hokkaido, di mana alarm ponsel berbunyi memekakkan telinga untuk memperingatkan warga. Seorang reporter NHK di Hokkaido menggambarkan guncangan horizontal berlangsung sekitar 30 detik yang membuatnya tidak bisa berdiri tegak.

Kota Hachinohe merasakan dampak paling parah dengan intensitas "6 atas" pada skala seismik Jepang—level yang membuat orang sulit berdiri dan cukup kuat untuk merusak kaca jendela serta meruntuhkan perabot besar di rumah maupun fasilitas umum.

Peringatan Tsunami Mencekam

Segera setelah gempa, JMA mengeluarkan peringatan tsunami dengan prediksi gelombang bisa mencapai ketinggian 3 meter yang akan menerjang pesisir timur laut. Peringatan khusus dikeluarkan untuk tiga prefektur: Hokkaido, Aomori, dan Iwate. Momen ini menjadi kali pertama JMA mengeluarkan peringatan tsunami sejak Juli lalu, saat gempa kuat di lepas pantai Kamchatka, Rusia.

Warga pesisir berbondong-bondong meninggalkan rumah mereka, bergegas menuju tempat evakuasi yang lebih tinggi. Bayangan tsunami mematikan tahun 2011 yang menewaskan hampir 20.000 orang masih membayangi ingatan kolektif masyarakat Jepang.

Gelombang tsunami pertama menghantam Pelabuhan Misawa di Aomori pada pukul 23.43 waktu setempat, diikuti gelombang kedua di Kota Urakawa, Hokkaido, pukul 23.50. Namun, kondisi di lapangan ternyata tidak seburuk prediksi awal. Gelombang tsunami yang tercatat hanya berkisar 20 hingga 70 sentimeter di berbagai pelabuhan—jauh di bawah perkiraan 3 meter.

Tsunami tertinggi tercatat di Pelabuhan Kuji, Prefektur Iwate, dengan ketinggian 70 sentimeter. Di Hokkaido, gelombang setinggi 50 sentimeter terpantau di Kota Urakawa, sementara Pelabuhan Mutsuogawara di Aomori mencatat tsunami 40 sentimeter.

Melihat kondisi yang lebih terkendali, JMA menurunkan status peringatan tsunami menjadi siaga pada Selasa dini hari. "Statusnya kini diturunkan menjadi siaga karena risiko banjir dan ketinggian gelombang diperkirakan lebih rendah," ungkap pejabat JMA seperti dilansir Reuters. Semua imbauan tsunami untuk pesisir Pasifik Jepang utara resmi dicabut pada pukul 06.20 pagi hari Selasa.

Pusat Peringatan Tsunami Nasional Amerika Serikat juga mengonfirmasi tidak ada bahaya tsunami bagi Pantai Barat AS, British Columbia Kanada, maupun Alaska.

Korban dan Kerusakan Infrastruktur

Badan Penanggulangan Kebakaran dan Bencana Jepang mencatat jumlah korban luka terus bertambah. Dari angka awal 23 orang yang dilaporkan Perdana Menteri Sanae Takaichi, jumlahnya meningkat menjadi 30 orang pada Selasa siang, dan terus bertambah menjadi 51 korban luka per Rabu. Satu orang dilaporkan dalam kondisi serius.

Sebagian besar cedera terjadi akibat jatuhan benda dan reruntuhan. Di sebuah hotel di Hachinohe, sekitar tujuh tamu dilaporkan terluka akibat pecahan kaca dan barang-barang yang berjatuhan. Seorang pengemudi juga mengalami luka saat kendaraannya jatuh ke dalam lubang yang terbentuk di jalan.

"Sampai saat ini, saya mendengar ada tujuh orang yang terluka," kata Perdana Menteri Sanae Takaichi dalam konferensi pers awal. Meski demikian, hingga Selasa petang, NHK melaporkan tidak ada kerusakan besar ataupun korban jiwa.

Kerusakan infrastruktur cukup signifikan. Sekitar 800 rumah kehilangan pasokan listrik, meskipun Tohoku Electric yang awalnya melaporkan pemadaman di ribuan rumah kemudian merevisinya menjadi ratusan. Sejumlah jalan mengalami keretakan dan kerusakan parah akibat kekuatan seismik, dengan beberapa permukaan jalan terbelah.

Layanan kereta api East Japan Railway terpaksa menghentikan operasi sementara untuk pemeriksaan keamanan. Keberangkatan Tohoku Shinkansen antara Stasiun Fukushima dan Shin-Aomori dihentikan hingga keesokan harinya. Kereta peluru (bullet train) yang menjadi kebanggaan Jepang itu mengalami gangguan operasional di beberapa rute.

Sekitar 480 warga mengungsi ke Pangkalan Udara Hachinohe. Pemerintah memobilisasi 18 helikopter pertahanan untuk menilai tingkat kerusakan dan melakukan operasi penyelamatan.

Fasilitas Nuklir Aman

Salah satu kekhawatiran terbesar pasca gempa adalah kondisi pembangkit listrik tenaga nuklir. Trauma bencana Fukushima 2011 masih melekat kuat, di mana gempa dan tsunami memicu krisis nuklir terburuk sejak Chernobyl.

Tohoku Electric Power dengan segera mengonfirmasi bahwa pembangkit listrik tenaga nuklir Higashidori di Aomori dan pembangkit Onagawa di Prefektur Miyagi tidak menunjukkan kelainan apa pun. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) juga mengonfirmasi tidak ada abnormalitas di pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima.

Pemeriksaan menyeluruh dilakukan di seluruh fasilitas nuklir di wilayah terdampak untuk memastikan tidak ada kebocoran radiasi atau kerusakan struktural yang dapat membahayakan keselamatan publik.

Peringatan Gempa Susulan yang Lebih Besar

Yang membuat situasi semakin mencemaskan adalah peringatan JMA tentang potensi gempa susulan yang lebih kuat. Dalam langkah yang jarang dilakukan, JMA mengeluarkan peringatan khusus tentang peningkatan risiko gempa bumi skala besar.

"Kemungkinan terjadinya gempa bumi skala besar baru telah meningkat dibandingkan waktu normal," tegas JMA seperti dikutip AFP. Badan meteorologi tersebut menyebutkan "ada peluang sekitar 1 banding 100 dalam tujuh hari untuk terjadinya gempa dengan magnitudo setara atau lebih besar."

Jika gempa dengan kekuatan serupa atau lebih besar terjadi, "tsunami besar akan mencapai daerah tersebut atau terjadi guncangan hebat." Peringatan ini mencakup wilayah Sanriku di timur laut Honshu serta pulau Hokkaido yang menghadap Samudra Pasifik.

Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mencatat gempa susulan berkekuatan 5,1 magnitudo pada Selasa dini hari, sekitar 122 kilometer selatan Honcho pada kedalaman 35 kilometer. BMKG juga melaporkan satu gempa susulan dengan magnitudo terbesar 5,5 hingga pukul 21.50 WIB.

Ini merupakan kali kedua JMA mengeluarkan peringatan serupa. Sebelumnya pada Agustus 2024, JMA juga pernah mengeluarkan peringatan khusus terkait potensi "gempa mega" di Palung Nankai yang terletak di barat daya Jepang.

Respons Pemerintah

Pemerintah Jepang bergerak cepat. Satuan tugas dibentuk di pusat manajemen krisis di kantor perdana menteri pada pukul 23.16, hanya satu menit setelah gempa terjadi. Perdana Menteri Sanae Takaichi langsung memasuki kantornya tak lama setelah pukul 23.50 untuk memimpin penanganan darurat.

PM Takaichi menginstruksikan pemerintah untuk segera menyampaikan informasi tentang tsunami dan perintah evakuasi kepada masyarakat dengan cara yang tepat, mengambil langkah-langkah menyeluruh untuk mencegah bahaya, mengevakuasi penduduk, dan memahami tingkat kerusakan sesegera mungkin.

Kepala Sekretaris Kabinet Kihara Minoru mengadakan konferensi pers pada Selasa, menegaskan bahwa pemerintah terus menilai tingkat kerusakan dan mencurahkan seluruh upaya pada langkah-langkah pencegahan bencana. Upaya penyelamatan dan bantuan menjadi prioritas utama, yang dipimpin oleh polisi, pemadam kebakaran, Pasukan Bela Diri, dan Penjaga Pantai Jepang.

PM Takaichi juga mengimbau warga untuk tetap berhati-hati mengingat peringatan kemungkinan gempa susulan yang lebih besar dalam beberapa hari mendatang.

Skenario Terburuk dan Ancaman Megaquake

Pemerintah Jepang memiliki penilaian yang mengkhawatirkan tentang potensi bencana di masa depan. Jika gempa besar terjadi di lepas pantai Hokkaido-Aomori, tsunami bisa mencapai ketinggian hingga 30 meter dengan potensi korban jiwa mencapai 199.000 orang, kerusakan sekitar 220.000 rumah, dan kerugian ekonomi diperkirakan mencapai 31 triliun yen atau sekitar 198 miliar dolar AS.

Skenario terburuk untuk gempa di Palung Nankai bahkan lebih mengerikan. Pemerintah memperkirakan gempa mega di kawasan tersebut dapat menewaskan hingga 298.000 orang dan menghasilkan kerugian mencapai 2 triliun dolar AS. Panel pemerintah telah meningkatkan probabilitas terjadinya gempa besar di Palung Nankai dalam 30 tahun ke depan menjadi 75-82 persen.

Namun, para ahli geologi seperti Kyle Bradley dan Judith A. Hubbard menekankan bahwa secara ilmiah tidak ada cara pasti untuk memprediksi apakah gempa kuat akan segera diikuti peristiwa yang lebih besar. "Kita harus bergantung pada statistik historis, yang memberi tahu bahwa sangat sedikit gempa besar yang segera disusul gempa yang lebih besar lagi," tulis mereka.

Jepang dan Ring of Fire

Jepang terletak di atas empat lempeng tektonik utama di sepanjang tepi barat "Cincin Api" Pasifik dan merupakan salah satu negara dengan aktivitas tektonik paling aktif di dunia. Negara ini mencatat sekitar 20 persen dari gempa bumi dunia dengan kekuatan 6,0 magnitudo atau lebih tinggi.

Gempa Desember 2025 ini terjadi di utara wilayah yang mengalami gempa dahsyat berkekuatan 9,0 magnitudo pada 11 Maret 2011. Bencana tersebut memicu tsunami yang menewaskan atau menghilangkan 18.500 orang dan menyebabkan kehancuran di pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi.

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono menjelaskan bahwa gempa ini merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas subduksi Lempeng Pasifik dan Lempeng Okhotsk dengan mekanisme naik (thrust fault).

Tidak Ada Dampak ke Indonesia

Meski Jepang diguncang gempa kuat dan tsunami, BMKG memastikan tidak ada potensi tsunami yang mengancam wilayah Indonesia. "Hasil analisis BMKG, gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami di wilayah Indonesia," tegas Daryono.

BMKG mengimbau masyarakat pesisir di wilayah Indonesia agar tetap tenang. "Hingga saat ini, belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan sebagai dampak gempa bumi tersebut. BMKG akan terus memonitor perkembangan dampak gempa bumi ini dan segera menginformasikan kepada stakeholder, media dan masyarakat," tambahnya.

Masyarakat diminta untuk hanya mengakses informasi resmi dari BMKG melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi, menghindari informasi yang belum terverifikasi yang dapat menimbulkan kepanikan.

Kewaspadaan Tetap Tinggi

Saat artikel ini ditulis, situasi di Jepang masih dalam tahap pemantauan intensif. Warga di wilayah pesisir Pasifik dari Hokkaido hingga Chiba tetap diminta waspada terhadap kemungkinan gempa susulan dalam minggu pertama pasca gempa utama.

Gempa bumi memang sangat sulit diprediksi, namun sistem peringatan dini Jepang yang canggih telah terbukti efektif dalam mengurangi korban jiwa. Pembelajaran dari bencana 2011 membuat masyarakat Jepang lebih siap menghadapi ancaman gempa dan tsunami.

Pengalaman ini sekali lagi mengingatkan bahwa Jepang, sebagai negara yang berada di zona seismik paling aktif di dunia, harus senantiasa bersiap menghadapi bencana alam. Kesiapsiagaan, sistem peringatan dini yang mumpuni, dan respons cepat pemerintah menjadi kunci dalam meminimalkan dampak bencana terhadap jiwa dan harta benda warga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tragedi Berdarah di Bondi Beach: 16 Orang Tewas dalam Serangan Teror saat Perayaan Hanukkah

SYDNEY - Pantai Bondi yang terkenal di Sydney, Australia, berubah menjadi tempat kejadian tragis pada Sabtu sore (14/12/2025) ketika dua orang bersenjata membabi buta menembaki kerumunan yang sedang merayakan hari pertama Hanukkah. Serangan yang terjadi sekitar pukul 18.47 waktu setempat ini menewaskan 16 orang dan melukai 42 lainnya, menjadikannya salah satu serangan massal paling mematikan di Australia dalam hampir tiga dekade terakhir. Detik-detik Mencekam di Archer Park Sekitar 1.000 orang telah berkumpul di Archer Park, area taman bermain di kompleks Bondi Beach, untuk menghadiri acara "Chanukah by the Sea" yang diselenggarakan oleh Chabad of Bondi. Suasana penuh suka cita tiba-tiba berubah menjadi horor ketika dua penembak mulai melepaskan tembakan ke arah kerumunan. Saksi mata menggambarkan kepanikan yang luar biasa. Danielle, seorang warga lokal yang enggan menyebutkan nama lengkapnya, berlari ke lokasi untuk mengambil putrinya yang sedang menghadiri pesta bar mit...

Tragedi Kebakaran Wang Fuk Court: 128 Tewas dalam Kebakaran Terparah Hong Kong Sejak 1948

Kebakaran yang melanda kompleks apartemen Wang Fuk Court di Tai Po menjadi bencana hunian paling mematikan di Hong Kong dalam hampir 80 tahun terakhir. Investigasi mengungkap dugaan kelalaian fatal dan korupsi dalam proyek renovasi bernilai miliaran rupiah. HONG KONG - Asap hitam mengepul tinggi ke langit Hong Kong pada sore hari Rabu, 26 November 2025. Api berkobar dengan kecepatan mengerikan, menelan tujuh dari delapan menara hunian di kompleks Wang Fuk Court, Tai Po, New Territories. Dalam hitungan jam, apa yang dimulai sebagai kebakaran kecil di perancah bambu berubah menjadi malapetaka yang menewaskan setidaknya 128 orang dan melukai puluhan lainnya. Ini bukan sekadar tragedi. Ini adalah kisah tentang kelalaian sistemik, dugaan korupsi, dan harga yang dibayar oleh warga biasa—banyak di antaranya lansia dan pekerja migran—yang percaya bahwa rumah mereka aman. Kronologi Kematian: Dari Api Kecil Menjadi Inferno Pukul 14.51 waktu setempat, Departemen Pemadam Kebakaran Hong Kong me...