Kebakaran yang melanda kompleks apartemen Wang Fuk Court di Tai Po menjadi bencana hunian paling mematikan di Hong Kong dalam hampir 80 tahun terakhir. Investigasi mengungkap dugaan kelalaian fatal dan korupsi dalam proyek renovasi bernilai miliaran rupiah.
HONG KONG - Asap hitam mengepul tinggi ke langit Hong Kong pada sore hari Rabu, 26 November 2025. Api berkobar dengan kecepatan mengerikan, menelan tujuh dari delapan menara hunian di kompleks Wang Fuk Court, Tai Po, New Territories. Dalam hitungan jam, apa yang dimulai sebagai kebakaran kecil di perancah bambu berubah menjadi malapetaka yang menewaskan setidaknya 128 orang dan melukai puluhan lainnya.Ini bukan sekadar tragedi. Ini adalah kisah tentang kelalaian sistemik, dugaan korupsi, dan harga yang dibayar oleh warga biasa—banyak di antaranya lansia dan pekerja migran—yang percaya bahwa rumah mereka aman.
Kronologi Kematian: Dari Api Kecil Menjadi Inferno
Pukul 14.51 waktu setempat, Departemen Pemadam Kebakaran Hong Kong menerima laporan pertama tentang kebakaran di Wang Cheong House, salah satu menara di Wang Fuk Court. Lima menit kemudian, petugas tiba di lokasi dan mendapati pemandangan yang mengerikan: perancah bambu eksternal sudah terbakar, dan api mulai memasuki bangunan.
Kecepatan penyebaran api begitu luar biasa hingga membuat para ahli kebingungan. Dalam waktu kurang dari empat jam, status kebakaran ditingkatkan menjadi alarm tingkat 5—level tertinggi dalam sistem klasifikasi Hong Kong. Ini hanya kasus kedua dalam sejarah Hong Kong pasca-1997 yang mencapai status ini, setelah kebakaran Cornwall Court pada 2008.
Yang membuat bencana ini semakin tragis adalah komposisi penghuninya. Wang Fuk Court adalah kompleks hunian bersubsidi pemerintah yang dibangun pada awal 1980-an, dengan delapan blok sekitar 31 lantai dan sekitar 2.000 unit yang menampung lebih dari 4.600 penduduk. Sebagian besar penghuninya adalah lansia dengan mobilitas terbatas, membuat evakuasi menjadi sangat sulit ketika api menyebar.
Wan, seorang penghuni yang hanya disebutkan dengan nama keluarganya dalam wawancara dengan CNN, menggambarkan kepanikan saat itu. "Saya menggendong dua anjing saya dan meraih dompet, lalu berlari menuruni tangga darurat yang berbau gas," katanya. Hanya beberapa menit setelah evakuasinya, api sudah meningkat menjadi alarm level 4.
Operasi pemadaman api dan pencarian berlangsung selama 43 jam tanpa henti. Lebih dari 1.000 petugas pemadam kebakaran dikerahkan dengan 140 unit mobil pemadam. Akhirnya, pada Jumat pagi, 28 November pukul 10.18, pemerintah Hong Kong mengumumkan bahwa kebakaran telah berhasil dipadamkan.
Korban Jiwa: Angka yang Terus Bertambah
Pada awalnya, laporan media hanya menyebutkan beberapa lusin korban tewas. Namun, seiring berjalannya waktu dan tim penyelamat menyisir setiap lantai dari tujuh menara yang terbakar, angka kematian terus meningkat dengan mengerikan.
Sekretaris Keamanan Chris Tang dalam konferensi pers Jumat sore mengumumkan angka resmi: 128 orang tewas, termasuk 124 yang ditemukan di lokasi dan 4 yang meninggal di rumah sakit. Sebanyak 79 orang lainnya mengalami luka-luka. Yang lebih mengkhawatirkan, sekitar 200 orang masih dinyatakan hilang, dan pihak berwenang tidak mengesampingkan kemungkinan menemukan lebih banyak korban.
Di antara korban adalah seorang petugas pemadam kebakaran yang gugur dalam tugas, dan 10 rekan sejawatnya yang mengalami luka-luka, termasuk satu yang dirawat di unit perawatan intensif akibat heat stroke.
Profil korban mencerminkan demografi kompleks ini: banyak di antaranya adalah penduduk lansia yang telah tinggal di sana selama puluhan tahun, serta pekerja migran termasuk pembantu rumah tangga asal Indonesia. Seorang wanita berusia 65 tahun yang tidak mau disebutkan namanya menceritakan kepada NPR bahwa dia dan suaminya telah tinggal di sana selama lebih dari 40 tahun. Dia mencoba membangunkan tetangganya, seorang pria berusia 80-an yang kesulitan berjalan, tetapi tidak ada jawaban. Hingga kini, dia belum mendengar kabar tentang tetangganya itu.
Akar Bencana: Material Tidak Standar dan Kelalaian Berat
Bagaimana api bisa menyebar begitu cepat di gedung beton modern? Jawabannya terletak pada serangkaian keputusan fatal yang dibuat selama proyek renovasi bernilai HK$330 juta (setara sekitar Rp680 miliar).
Inspeksi pada 2016 menemukan bahwa kompleks Wang Fuk Court memerlukan perbaikan berskala besar. Pada 2024, asosiasi pemilik menyetujui rencana renovasi ambisius yang mencakup pembangunan ulang dinding eksternal secara menyeluruh. Mulai Juli 2024, kedelapan menara dibungkus dengan perancah bambu dan jaring pelindung hijau, ditambah terpal tahan air untuk menangkap puing-puing.
Namun, investigasi mengungkapkan bahwa material yang digunakan jauh dari standar yang diwajibkan:
Jaring Pelindung yang Mudah Terbakar: Material jaring dan terpal yang dipasang di eksterior tidak memenuhi standar ketahanan api yang diperlukan. Bukannya memperlambat api, material ini justru bertindak sebagai "sumbu vertikal raksasa", menarik api ke atas gedung dengan kecepatan luar biasa dan menyebarkannya ke blok-blok tetangga.
Papan Styrofoam di Jendela: Yang lebih mengejutkan, penyelidik menemukan papan busa styrofoam atau plastik yang sangat mudah terbakar dipasang menutupi jendela dekat lobi lift di setiap lantai. Seorang inspektur polisi senior secara tegas menyebut penggunaan busa semacam itu sebagai "kelalaian berat". Papan-papan ini:
- Menjebak panas dan asap di area umum
- Memungkinkan api berpindah dari koridor ke apartemen ketika terbakar
- Menghancurkan sistem kompartementasi yang seharusnya membatasi penyebaran api
Perancah Bambu: Meskipun perancah bambu adalah ikon konstruksi Hong Kong dan digunakan di sekitar 80% proyek renovasi besar, material ini memiliki kelemahan fatal. Bambu secara inheren mudah terbakar, dapat melemah dalam cuaca buruk, dan menyediakan jalur vertikal berkelanjutan bagi api. Para ahli yang diwawancarai media global berpendapat bahwa setelah tragedi ini, bambu tidak boleh lagi digunakan untuk membungkus sepenuhnya blok-blok hunian tinggi.
Sumber api sendiri masih dalam penyelidikan, namun dicurigai berasal dari kecerobohan merokok oleh pekerja atau orang lain di perancah, atau kemungkinan pekerjaan panas lainnya.
Peringatan yang Diabaikan
Yang paling menyakitkan dari tragedi ini adalah bahwa bencana ini bisa dicegah. Penghuni Wang Fuk Court telah memperingatkan bahaya sejak Oktober 2024—lebih dari setahun sebelum kebakaran.
Sebuah grup Facebook yang mengaku sebagai forum komunitas untuk penghuni Wang Fuk Court menunjukkan bahwa warga telah mengajukan kekhawatiran tentang material jaring konstruksi. Beberapa postingan termasuk keluhan yang diajukan kepada Departemen Tenaga Kerja tentang kemungkinan bahaya kebakaran. Penghuni mengeluh tentang:
- Biaya renovasi yang sangat tinggi per unit (sekitar HK$160.000-180.000 atau sekitar Rp330-370 juta per apartemen)
- Terkurung dalam kegelapan selama berbulan-bulan
- Risiko kebakaran dari jaring dan akumulasi puing
Departemen Tenaga Kerja mengklaim telah melakukan 16 inspeksi keselamatan antara Juli 2024 dan November 2025, mengeluarkan enam pemberitahuan perbaikan dan memulai tiga penuntutan atas masalah keselamatan di lokasi. Dalam pernyataan kepada CNN, departemen mengatakan inspeksi terakhir dilakukan pada 20 November—hanya enam hari sebelum kebakaran—setelah itu departemen kembali mengeluarkan pengingat tertulis kepada kontraktor tentang perlunya mengambil langkah-langkah pencegahan kebakaran yang tepat.
Setelah warga mengeluhkan risiko kebakaran jaring hijau, pejabat dilaporkan memeriksa sertifikat dan meyakinkan warga bahwa material tersebut "tahan api" dan dapat diterima jika pekerjaan panas seperti pengelasan dikontrol. Namun kenyataannya, jaring tersebut terbakar dengan hebat, menimbulkan pertanyaan serius tentang:
- Keandalan sertifikasi
- Kecukupan pengawasan dan penegakan di lokasi
- Apakah material yang digunakan benar-benar sesuai dengan yang disertifikasi
Penangkapan dan Investigasi Korupsi
Kemarahan publik atas kelalaian yang begitu jelas memicu respons cepat dari pihak berwenang Hong Kong.
Investigasi Kriminal: Pada dini hari 27 November, Kepolisian Hong Kong menangkap tiga pria berusia antara 52 dan 68 tahun dengan tuduhan pembunuhan tidak disengaja. Ketiga tersangka termasuk dua direktur dan satu konsultan dari Prestige Construction and Engineering Company, perusahaan kontraktor yang bertanggung jawab atas renovasi. Polisi menyatakan mereka memiliki alasan untuk percaya bahwa kelalaian serius oleh mereka yang bertanggung jawab atas perusahaan konstruksi berkontribusi pada kebakaran.
Probe Anti-Korupsi: Yang lebih signifikan, Komisi Independen Melawan Korupsi (ICAC) Hong Kong membuka investigasi korupsi penuh terhadap proyek renovasi Wang Fuk Court. Gugus tugas khusus dibentuk untuk memeriksa apakah korupsi atau kolusi mempengaruhi proyek "renovasi besar" senilai HK$330 juta, termasuk pemilihan kontraktor, pengawasan, dan kemungkinan suap.
Pada 28 November, ICAC menangkap delapan orang:
- Empat dari perusahaan konsultan renovasi (dua direktur, dua manajer proyek)
- Tiga subkontraktor perancah, termasuk pasangan yang memiliki perusahaan perancah
- Satu perantara yang diduga terlibat dalam mengatur pekerjaan
ICAC menyita dokumen dan catatan bank di 13 lokasi. Investigasi ini menunjukkan bahwa penyelidikan tidak hanya melihat kegagalan keselamatan teknis, tetapi juga tata kelola sistemik dan kemungkinan korupsi dalam cara pekerjaan bangunan besar diadakan dan diawasi.
Isu Sistemik yang Lebih Luas
Tragedi Wang Fuk Court mengungkap masalah struktural yang lebih dalam dalam sistem pemeliharaan bangunan Hong Kong, khususnya terkait dengan Skema Inspeksi Bangunan Wajib (MBIS) yang mewajibkan pemilik bangunan tua untuk memeriksa dan memperbaiki dinding eksternal, area umum, elemen keselamatan kebakaran, dan drainase.
Kekhawatiran kunci meliputi:
- Kompleks tua + paket perbaikan mahal: Kompleks bersubsidi yang menua sering menghadapi proyek perbaikan yang sangat mahal, memberikan tekanan pada asosiasi pemilik untuk memilih penawaran yang lebih murah atau menerima pemotongan sudut.
- Renovasi simultan semua blok: Beberapa insinyur mempertanyakan mengapa ketujuh menara yang ditempati direnovasi sekaligus, karena ini menciptakan kondisi untuk "rantai api" di seluruh kompleks.
- Tanggung jawab yang terfragmentasi: Pengembang, asosiasi pemilik, konsultan, kontraktor utama, subkontraktor, dan berbagai departemen pemerintah semuanya berbagi tanggung jawab, membuat akuntabilitas menjadi kompleks ketika terjadi kesalahan.
Respons Pemerintah dan Masyarakat
Pemerintah Hong Kong mengaktifkan Pusat Pemantauan & Dukungan Darurat dan mekanisme "Mobilisasi Seluruh Pemerintah" untuk tenaga kerja.
Bantuan darurat meliputi:
- Membuka beberapa tempat penampungan sementara menggunakan sekolah dan aula komunitas; sekitar 900 orang awalnya ditempatkan di tempat penampungan
- Memberikan subsidi tunai darurat HK$10.000 (sekitar Rp21 juta) per rumah tangga yang terkena dampak
- Membentuk "Dana Dukungan untuk Wang Fuk Court di Tai Po" dengan pendanaan awal pemerintah HK$300 juta (sekitar Rp620 miliar) untuk dukungan jangka menengah dan pembangunan kembali
- Memfasilitasi penempatan kembali sementara di proyek perumahan publik atau transisi lainnya untuk penduduk yang terlantar
- Menawarkan penggantian dokumen identitas dan perjalanan yang hilang dengan proses dipercepat
Kepala Eksekutif John Lee memimpin pertemuan antardepartemen, menyebut kebakaran itu sebagai "bencana besar" dan momen kesedihan kolektif, serta memerintahkan inspeksi segera terhadap semua kompleks perumahan yang sedang menjalani perbaikan besar, termasuk perancah dan material.
Solidaritas Masyarakat: Respons masyarakat sipil dan bisnis sangat kuat. Sumbangan amal dilaporkan melebihi HK$150 juta (sekitar Rp310 miliar) hanya dalam beberapa hari. Bahkan pada Sabtu malam 28 November, donasi publik untuk dana dukungan telah mencapai HK$1 miliar (sekitar Rp2,07 triliun).
Berbagai NGO dan perusahaan menyediakan makanan, perlengkapan, dan konseling psikologis. Di industri hiburan, banyak artis Hong Kong secara pribadi mengantarkan dan mendistribusikan persediaan. Beberapa organisasi kesejahteraan hewan juga menyediakan layanan perawatan sementara untuk hewan peliharaan yang terdampak—sekitar 20 kucing, anjing, dan bahkan kura-kura berhasil diselamatkan.
Perusahaan telekomunikasi besar memberikan data mobile gratis dan layanan perpanjangan jam buka toko. McDonald's mengumumkan akan menyediakan makanan gratis di tiga lokasi 24 jam dan mengirim 1.000 paket sarapan ke beberapa pusat evakuasi.
Henderson Land menyumbang HK$30 juta untuk pengaturan hunian transisi dan bantuan darurat, sementara Chow Tai Fook Group mengumumkan sumbangan HK$20 juta. Bahkan perusahaan hiburan Korea Selatan seperti SM Entertainment, YG Entertainment, dan JYP Entertainment memberikan sumbangan untuk membantu upaya bantuan.
Bendera di gedung-gedung pemerintah dikibarkan setengah tiang, acara perayaan resmi ditunda, dan kegiatan peringatan publik direncanakan. Presiden China Xi Jinping secara publik menyatakan belasungkawa dan menuntut penyelidikan menyeluruh.
Implikasi Jangka Panjang
Tragedi Wang Fuk Court menimbulkan beberapa pertanyaan mendesak untuk Hong Kong:
1. Masa Depan Perancah Bambu: Para pembuat kebijakan sudah menghadapi tekanan untuk membatasi atau menghapus penggunaan bambu untuk pembungkusan fasad skala besar, terutama di kompleks hunian padat. Tahun lalu, pemerintah Hong Kong mulai menghapus bambu dalam material perancah dan menggantinya dengan baja, dengan alasan bahwa logam menimbulkan risiko kebakaran yang lebih kecil.
2. Kekuatan Regulasi dan Penegakan Keselamatan Bangunan: Bagaimana material yang tidak sesuai standar bisa lolos melalui pengadaan, sertifikasi, dan inspeksi berulang? Apakah rezim pengujian, sertifikasi, dan verifikasi di lokasi saat ini cukup kuat?
3. Tata Kelola dan Korupsi dalam Proyek Pemeliharaan: Investigasi ICAC terhadap renovasi HK$330 juta menunjukkan kemungkinan kolusi, suap, atau manipulasi penawaran yang mempengaruhi pilihan material dan pengawasan. Skema perbaikan skala besar serupa ada di banyak kompleks yang menua; kasus ini dapat memicu tinjauan anti-korupsi dan tata kelola yang lebih luas.
4. Ketidaksetaraan Perkotaan dan Kerentanan: Para korban sebagian besar adalah penduduk kompleks bersubsidi yang menua, banyak di antaranya lansia atau berpenghasilan rendah. Bencana ini menyoroti bagaimana tekanan keterjangkauan perumahan dan stok yang menua dapat bersinggungan dengan kurangnya investasi, material berisiko, dan kegagalan pengawasan.
5. Pelajaran Manajemen Krisis: Meskipun mobilisasi besar dan relatif cepat, skala korban menunjukkan betapa cepatnya hal-hal dapat mengatasi asumsi pemadaman kebakaran standar ketika sistem fasad eksternal gagal secara katastrofik.
Perbandingan dengan Grenfell Tower
Banyak pengamat telah membandingkan tragedi Wang Fuk Court dengan kebakaran Grenfell Tower di London pada 2017, yang menewaskan 72 orang. Dalam kasus Grenfell, laporan post-mortem menyalahkan pemerintah, regulator, dan industri di Inggris atas kematian tersebut, khususnya terkait dengan penggunaan cladding yang mudah terbakar.
Kelompok penyintas Grenfell United memposting di media sosial: "Hati kami terluka untuk semua yang terkena dampak kebakaran mengerikan di Hong Kong."
Paralel antara kedua tragedi ini mencolok: dalam kedua kasus, material eksterior yang tidak memenuhi standar keselamatan memungkinkan api menyebar dengan kecepatan yang tidak terbayangkan, mengubah apa yang seharusnya menjadi struktur yang aman menjadi perangkap mematikan.
Kesimpulan
Kebakaran Wang Fuk Court bukan hanya statistik kematian atau angka korban. Ini adalah kegagalan sistemik yang memakan korban nyawa ratusan orang—orang tua yang telah menghabiskan seluruh hidup mereka di apartemen kecil mereka, pekerja migran yang datang untuk kehidupan yang lebih baik, keluarga yang percaya bahwa renovasi akan membuat rumah mereka lebih aman, bukan lebih berbahaya.
Tragedi ini adalah pengingat pahit bahwa dalam mengejar efisiensi biaya, kita tidak boleh mengorbankan keselamatan. Bahwa sertifikat dan inspeksi hanya sebaik integritas orang-orang yang mengeluarkannya. Dan bahwa ketika sistem gagal, mereka yang paling rentan—lansia, berpenghasilan rendah, pekerja migran—yang membayar harga tertinggi.
Saat Hong Kong berduka dan mencari jawaban, satu hal yang jelas: perubahan fundamental diperlukan tidak hanya dalam bagaimana bangunan direnovasi, tetapi dalam budaya akuntabilitas, transparansi, dan pengawasan yang memungkinkan keputusan fatal semacam itu dibuat sejak awal.
Untuk 128 jiwa yang hilang dan ratusan keluarga yang hancur, tidak ada kata-kata yang dapat mengobati luka. Tetapi kita berhutang kepada mereka untuk memastikan bahwa pelajaran dari tragedi ini tidak dilupakan, dan bahwa tidak ada keluarga lain yang harus mengalami kehilangan yang begitu dahsyat karena kelalaian yang dapat dicegah.
Tentang Wang Fuk Court: Kompleks Wang Fuk Court adalah kompleks hunian bersubsidi Skema Kepemilikan Rumah pemerintah yang terletak di Tai Po, dibangun pada 1983. Ini terdiri dari delapan menara hunian publik dan rumah bagi sekitar 4.600 orang menurut sensus 2021. Hong Kong adalah salah satu kota terpadat di dunia, sehingga sulit untuk memadamkan kebakaran besar yang dapat dengan mudah menyebar dari bangunan ke bangunan.
Artikel ini terakhir diperbarui pada 29 November 2025, dengan informasi dari berbagai sumber media internasional dan lokal Hong Kong.

Komentar
Posting Komentar