Langsung ke konten utama

Rudal Hipersonik Oreshnik Hantam Ukraina Lagi: Senjata Mach 10 yang Nyaris Mustahil Dicegat

Dalam eskalasi terbaru konflik Rusia-Ukraina, Moskow kembali meluncurkan rudal balistik hipersonik tercanggihnya, Oreshnik, menghantam wilayah barat Ukraina pada Kamis malam hingga Jumat dini hari, 8-9 Januari 2026. Serangan ini menandai penggunaan kedua senjata kontroversial tersebut sejak pertama kali dipakai pada November 2024 lalu. Serangan masif yang melibatkan 242 drone dan 36 rudal berbagai jenis ini menewaskan sedikitnya empat orang dan melukai 25 lainnya di ibu kota Kyiv. Namun yang paling mengejutkan adalah penggunaan Oreshnik yang menargetkan infrastruktur kritis di wilayah Lviv, kota yang berjarak hanya 70 kilometer dari perbatasan Polandia, anggota NATO. Serangan Balasan atau Pesan Politik? Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim serangan ini merupakan pembalasan atas dugaan serangan drone Ukraina terhadap kediaman Presiden Vladimir Putin di Novgorod pada Desember 2025. Namun klaim ini ditolak mentah-mentah oleh pihak Amerika Serikat dan Ukraina. Pejabat CIA bahkan menya...

Arab Saudi Peringatkan Iran: Sepakati Nuklir dengan Trump atau Hadapi Risiko Serangan Israel

Jakarta, Indonesia – Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Arab Saudi dilaporkan telah menyampaikan peringatan keras kepada Iran untuk segera mencapai kesepakatan nuklir dengan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Jika tidak, Teheran dihadapkan pada risiko serangan militer dari Israel. Peringatan ini menandakan babak baru dalam dinamika keamanan regional yang sudah kompleks.

Menurut laporan dari berbagai sumber berita internasional yang mengutip pejabat Teluk dan Iran, pesan genting ini disampaikan langsung oleh Menteri Pertahanan Arab Saudi, Pangeran Khalid bin Salman, dalam sebuah pertemuan tertutup di Teheran pada pertengahan April 2025. Kunjungan tingkat tinggi ini sendiri merupakan peristiwa langka dan menunjukkan keseriusan Riyadh dalam menyikapi potensi eskalasi konflik.

Tawaran Trump dan Bayang-Bayang Serangan Israel

Inti dari pesan Pangeran Khalid adalah bahwa pemerintahan Trump tidak memiliki banyak kesabaran untuk diplomasi yang berlarut-larut terkait program nuklir Iran. Jendela kesempatan untuk mencapai kesepakatan disebut semakin sempit. Kegagalan Teheran untuk memanfaatkan momentum ini dapat memicu tindakan militer sepihak dari Israel, sebuah skenario yang sangat dikhawatirkan Arab Saudi dan berpotensi menyeret kawasan ke dalam perang yang lebih luas.

Peringatan ini datang di tengah upaya pemerintahan Trump untuk merundingkan kembali kesepakatan nuklir yang lebih ketat dengan Iran, setelah AS menarik diri dari perjanjian JCPOA (Joint Comprehensive Plan of Action) pada tahun 2018. Sejak penarikan tersebut, Iran secara bertahap meningkatkan aktivitas pengayaan uraniumnya, yang memicu kekhawatiran komunitas internasional, khususnya AS dan Israel, mengenai kemungkinan Teheran mengembangkan senjata nuklir.

Israel, yang memandang program nuklir Iran sebagai ancaman eksistensial, telah berulang kali mengisyaratkan kesiapannya untuk mengambil tindakan militer guna mencegah Iran memiliki kemampuan senjata nuklir. Peringatan dari Arab Saudi ini seolah mengamini ancaman tersebut dan menempatkan Iran dalam posisi yang sulit.


Reaksi Iran dan Implikasi Regional

Sumber-sumber di Iran mengindikasikan bahwa Teheran menyatakan keterbukaan untuk bernegosiasi, namun tetap menyuarakan skeptisisme terhadap pendekatan diplomasi pemerintahan Trump yang dianggap tidak dapat diprediksi. Iran juga menegaskan keengganannya untuk sepenuhnya membongkar program pengayaan uraniumnya, yang diklaim bertujuan damai untuk kebutuhan energi.

Di tengah alotnya negosiasi langsung antara AS dan Iran, yang dilaporkan telah berlangsung beberapa putaran, termasuk pembicaraan di Oman, peringatan dari Arab Saudi ini menambah tekanan signifikan bagi Teheran. Kunjungan Pangeran Khalid ke Iran juga menarik perhatian, mengingat hubungan kedua negara yang kerap diwarnai rivalitas. Langkah ini dapat diartikan sebagai upaya Riyadh untuk mencegah konflik terbuka yang dapat mengganggu stabilitas seluruh kawasan Teluk.

Para analis menilai, pesan dari Arab Saudi ini mencerminkan kekhawatiran mendalam di kalangan negara-negara Arab Teluk terhadap program nuklir Iran dan potensi dampaknya terhadap keamanan regional. Dengan batas waktu yang semakin mendesak dan ancaman serangan Israel yang membayangi, bola kini berada di tangan Iran untuk menentukan langkah selanjutnya dalam saga nuklir yang penuh ketidakpastian ini.

Perkembangan ini akan terus dipantau secara saksama, mengingat implikasinya yang sangat besar bagi perdamaian dan keamanan global, khususnya di kawasan Timur Tengah yang selalu bergejolak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tragedi Berdarah di Bondi Beach: 16 Orang Tewas dalam Serangan Teror saat Perayaan Hanukkah

SYDNEY - Pantai Bondi yang terkenal di Sydney, Australia, berubah menjadi tempat kejadian tragis pada Sabtu sore (14/12/2025) ketika dua orang bersenjata membabi buta menembaki kerumunan yang sedang merayakan hari pertama Hanukkah. Serangan yang terjadi sekitar pukul 18.47 waktu setempat ini menewaskan 16 orang dan melukai 42 lainnya, menjadikannya salah satu serangan massal paling mematikan di Australia dalam hampir tiga dekade terakhir. Detik-detik Mencekam di Archer Park Sekitar 1.000 orang telah berkumpul di Archer Park, area taman bermain di kompleks Bondi Beach, untuk menghadiri acara "Chanukah by the Sea" yang diselenggarakan oleh Chabad of Bondi. Suasana penuh suka cita tiba-tiba berubah menjadi horor ketika dua penembak mulai melepaskan tembakan ke arah kerumunan. Saksi mata menggambarkan kepanikan yang luar biasa. Danielle, seorang warga lokal yang enggan menyebutkan nama lengkapnya, berlari ke lokasi untuk mengambil putrinya yang sedang menghadiri pesta bar mit...

Tragedi Kebakaran Wang Fuk Court: 128 Tewas dalam Kebakaran Terparah Hong Kong Sejak 1948

Kebakaran yang melanda kompleks apartemen Wang Fuk Court di Tai Po menjadi bencana hunian paling mematikan di Hong Kong dalam hampir 80 tahun terakhir. Investigasi mengungkap dugaan kelalaian fatal dan korupsi dalam proyek renovasi bernilai miliaran rupiah. HONG KONG - Asap hitam mengepul tinggi ke langit Hong Kong pada sore hari Rabu, 26 November 2025. Api berkobar dengan kecepatan mengerikan, menelan tujuh dari delapan menara hunian di kompleks Wang Fuk Court, Tai Po, New Territories. Dalam hitungan jam, apa yang dimulai sebagai kebakaran kecil di perancah bambu berubah menjadi malapetaka yang menewaskan setidaknya 128 orang dan melukai puluhan lainnya. Ini bukan sekadar tragedi. Ini adalah kisah tentang kelalaian sistemik, dugaan korupsi, dan harga yang dibayar oleh warga biasa—banyak di antaranya lansia dan pekerja migran—yang percaya bahwa rumah mereka aman. Kronologi Kematian: Dari Api Kecil Menjadi Inferno Pukul 14.51 waktu setempat, Departemen Pemadam Kebakaran Hong Kong me...

Gempa Dahsyat 7,5 M Guncang Jepang, Picu Tsunami dan 51 Korban Luka

TOKYO - Guncangan dahsyat kembali melanda Negeri Sakura. Gempa bumi berkekuatan 7,5 magnitudo mengguncang pantai timur laut Jepang pada Senin malam, 8 Desember 2025, memicu peringatan tsunami dan evakuasi massal sekitar 90.000 warga. Kejadian ini mengingatkan kembali trauma gempa dan tsunami dahsyat tahun 2011 yang meluluhlantakkan wilayah Tohoku. Pusat gempa berada sekitar 80 kilometer di lepas pantai Prefektur Aomori, wilayah paling utara Pulau Honshu, pada kedalaman 54 kilometer. Badan Meteorologi Jepang (JMA) awalnya melaporkan kekuatan gempa mencapai 7,6 magnitudo sebelum direvisi menjadi 7,5. Sementara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia mencatat magnitudo 7,3 dalam analisisnya. Gempa terjadi tepat pukul 23.15 waktu setempat atau 21.15 WIB. Guncangan keras terasa hingga Sapporo, ibu kota Hokkaido, di mana alarm ponsel berbunyi memekakkan telinga untuk memperingatkan warga. Seorang reporter NHK di Hokkaido menggambarkan guncangan horizontal berlangsun...