Langsung ke konten utama

Rudal Hipersonik Oreshnik Hantam Ukraina Lagi: Senjata Mach 10 yang Nyaris Mustahil Dicegat

Dalam eskalasi terbaru konflik Rusia-Ukraina, Moskow kembali meluncurkan rudal balistik hipersonik tercanggihnya, Oreshnik, menghantam wilayah barat Ukraina pada Kamis malam hingga Jumat dini hari, 8-9 Januari 2026. Serangan ini menandai penggunaan kedua senjata kontroversial tersebut sejak pertama kali dipakai pada November 2024 lalu. Serangan masif yang melibatkan 242 drone dan 36 rudal berbagai jenis ini menewaskan sedikitnya empat orang dan melukai 25 lainnya di ibu kota Kyiv. Namun yang paling mengejutkan adalah penggunaan Oreshnik yang menargetkan infrastruktur kritis di wilayah Lviv, kota yang berjarak hanya 70 kilometer dari perbatasan Polandia, anggota NATO. Serangan Balasan atau Pesan Politik? Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim serangan ini merupakan pembalasan atas dugaan serangan drone Ukraina terhadap kediaman Presiden Vladimir Putin di Novgorod pada Desember 2025. Namun klaim ini ditolak mentah-mentah oleh pihak Amerika Serikat dan Ukraina. Pejabat CIA bahkan menya...

Iran Ancang-Ancang "Sabotase" Kesepakatan Nuklir AS: Apa Dampaknya bagi Dunia?

Kesepakatan nuklir Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan negara-negara dunia kembali memanas. Setelah bertahun-tahun di ambang kehancuran, pejabat Iran kini secara terbuka mengancam akan melakukan sabotase terhadap perjanjian tersebut jika AS tidak memenuhi kewajibannya. Bagaimana situasi terkini, dan mengapa ancaman ini penting untuk diwaspadai? Simak analisis lengkapnya!

Latar Belakang: JCPOA yang Terus Diterpa Krisis

Kesepakatan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) 2015 dirancang untuk membatasi program nuklir Iran sebagai ganti pencabutan sanksi ekonomi. Namun, sejak AS menarik diri pada 2018 di era Trump, hubungan kedua negara terus memanas. Iran pun mulai meningkatkan pengayaan uranium hingga 60%—jauh di atas batas 3,67% yang diizinkan JCPOA.

Meski perundingan untuk menghidupkan kembali kesepakatan sempat mengemuka di era Biden, kebuntuan masih terjadi. Iran menuntut jaminan AS tidak akan keluar lagi dari perjanjian, sementara AS ingin pembatasan ketat terhadap program rudal dan militer Teheran.

Ancaman Terbaru Iran: "Kami Punya Opsi Lain"

Pada 25 September 2023, Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian menyatakan bahwa negaranya "tidak akan diam" jika AS terus mengulur-ulur komitmenya. "Jika Barat berpikir bisa mengabaikan hak-hak kami, mereka salah. Kami punya kapasitas untuk merespons," tegasnya dalam konferensi pers di New York, dikutip dari Reuters.

Pernyataan ini muncul setelah laporan IAEA (Badan Energi Atom Internasional) yang mengungkap bahwa Iran masih menyimpan stok uranium berkadar tinggi. Para analis, seperti diungkap Al Jazeera, mewanti-wanti bahwa ancaman "sabotase" bisa berarti:

  1. Meningkatkan pengayaan uranium ke tingkat senjata (90%).

  2. Membatasi akses inspektur IAEA.

  3. Menyokong kelompok militer di Timur Tengah untuk menekan AS.

Mengapa Ancaman Ini Serius?

  1. Krisis Energi Global: Jika JCPOA gagal, sanksi minyak Iran akan tetap berlaku. Padahal, pasar membutuhkan pasokan minyak Iran untuk menstabilkan harga akibat perang Rusia-Ukraina.

  2. Proliferasi Nuklir: Jika Iran benar-benar membuat bom, negara-negara seperti Arab Saudi dan Turki bisa ikut mengembangkan senjata nuklir.

  3. Ketegangan Regional: Ancaman Iran berpotensi memicu konflik dengan Israel, yang sebelumnya disebut The New York Times telah melakukan serangan siber ke fasilitas nuklir Iran.

Respons AS dan Sekutu: Tetap Waspada

AS melalui Jubir Departemen Luar Negeri Matthew Miller menyebut bahwa "pintu diplomasi masih terbuka, tetapi waktu tidak tak terbatas." Sementara itu, Eropa dilaporkan oleh BBC sedang mempertimbangkan opsi sanksi tambahan jika Iran terus mengabaikan peringatan.

Di sisi lain, Rusia dan China—dua anggota JCPOA—terus mendorong negosiasi. Keduanya menuding AS sebagai biang keladi krisis ini.

Apa yang Bisa Terjadi Selanjutnya?

  • Skenario Terbaik: AS memberi insentif ekonomi (seperti pencairan aset Iran di luar negeri) agar Iran kembali mematuhi JCPOA.

  • Skenario Terburuk: Iran mencapai kemampuan bom nuklir dalam hitungan minggu, memicu perlombaan senjata di Timur Tengah.

Kata Ahli: "Kedua Pihak Harus Turunkan Ego"

Dr. Sanam Vakil dari Chatham House menegaskan bahwa "krisis ini hanya bisa diatasi jika AS fleksibel dalam sanksi dan Iran transparan soal nuklir." Tanpa kompromi, dunia mungkin menghadapi babak baru ketidakstabilan.

Mengapa Kita Perlu Peduli?

Ancaman sabotase Iran bukan cuma urusan AS atau Timur Tengah. Guncangan energi, risiko perang nuklir, dan tensi geopolitik bisa berdampak global—termasuk pada harga BBM dan keamanan Indonesia. Pantau terus perkembangannya!



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tragedi Berdarah di Bondi Beach: 16 Orang Tewas dalam Serangan Teror saat Perayaan Hanukkah

SYDNEY - Pantai Bondi yang terkenal di Sydney, Australia, berubah menjadi tempat kejadian tragis pada Sabtu sore (14/12/2025) ketika dua orang bersenjata membabi buta menembaki kerumunan yang sedang merayakan hari pertama Hanukkah. Serangan yang terjadi sekitar pukul 18.47 waktu setempat ini menewaskan 16 orang dan melukai 42 lainnya, menjadikannya salah satu serangan massal paling mematikan di Australia dalam hampir tiga dekade terakhir. Detik-detik Mencekam di Archer Park Sekitar 1.000 orang telah berkumpul di Archer Park, area taman bermain di kompleks Bondi Beach, untuk menghadiri acara "Chanukah by the Sea" yang diselenggarakan oleh Chabad of Bondi. Suasana penuh suka cita tiba-tiba berubah menjadi horor ketika dua penembak mulai melepaskan tembakan ke arah kerumunan. Saksi mata menggambarkan kepanikan yang luar biasa. Danielle, seorang warga lokal yang enggan menyebutkan nama lengkapnya, berlari ke lokasi untuk mengambil putrinya yang sedang menghadiri pesta bar mit...

Tragedi Kebakaran Wang Fuk Court: 128 Tewas dalam Kebakaran Terparah Hong Kong Sejak 1948

Kebakaran yang melanda kompleks apartemen Wang Fuk Court di Tai Po menjadi bencana hunian paling mematikan di Hong Kong dalam hampir 80 tahun terakhir. Investigasi mengungkap dugaan kelalaian fatal dan korupsi dalam proyek renovasi bernilai miliaran rupiah. HONG KONG - Asap hitam mengepul tinggi ke langit Hong Kong pada sore hari Rabu, 26 November 2025. Api berkobar dengan kecepatan mengerikan, menelan tujuh dari delapan menara hunian di kompleks Wang Fuk Court, Tai Po, New Territories. Dalam hitungan jam, apa yang dimulai sebagai kebakaran kecil di perancah bambu berubah menjadi malapetaka yang menewaskan setidaknya 128 orang dan melukai puluhan lainnya. Ini bukan sekadar tragedi. Ini adalah kisah tentang kelalaian sistemik, dugaan korupsi, dan harga yang dibayar oleh warga biasa—banyak di antaranya lansia dan pekerja migran—yang percaya bahwa rumah mereka aman. Kronologi Kematian: Dari Api Kecil Menjadi Inferno Pukul 14.51 waktu setempat, Departemen Pemadam Kebakaran Hong Kong me...

Gempa Dahsyat 7,5 M Guncang Jepang, Picu Tsunami dan 51 Korban Luka

TOKYO - Guncangan dahsyat kembali melanda Negeri Sakura. Gempa bumi berkekuatan 7,5 magnitudo mengguncang pantai timur laut Jepang pada Senin malam, 8 Desember 2025, memicu peringatan tsunami dan evakuasi massal sekitar 90.000 warga. Kejadian ini mengingatkan kembali trauma gempa dan tsunami dahsyat tahun 2011 yang meluluhlantakkan wilayah Tohoku. Pusat gempa berada sekitar 80 kilometer di lepas pantai Prefektur Aomori, wilayah paling utara Pulau Honshu, pada kedalaman 54 kilometer. Badan Meteorologi Jepang (JMA) awalnya melaporkan kekuatan gempa mencapai 7,6 magnitudo sebelum direvisi menjadi 7,5. Sementara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia mencatat magnitudo 7,3 dalam analisisnya. Gempa terjadi tepat pukul 23.15 waktu setempat atau 21.15 WIB. Guncangan keras terasa hingga Sapporo, ibu kota Hokkaido, di mana alarm ponsel berbunyi memekakkan telinga untuk memperingatkan warga. Seorang reporter NHK di Hokkaido menggambarkan guncangan horizontal berlangsun...