Langsung ke konten utama

Rudal Hipersonik Oreshnik Hantam Ukraina Lagi: Senjata Mach 10 yang Nyaris Mustahil Dicegat

Dalam eskalasi terbaru konflik Rusia-Ukraina, Moskow kembali meluncurkan rudal balistik hipersonik tercanggihnya, Oreshnik, menghantam wilayah barat Ukraina pada Kamis malam hingga Jumat dini hari, 8-9 Januari 2026. Serangan ini menandai penggunaan kedua senjata kontroversial tersebut sejak pertama kali dipakai pada November 2024 lalu. Serangan masif yang melibatkan 242 drone dan 36 rudal berbagai jenis ini menewaskan sedikitnya empat orang dan melukai 25 lainnya di ibu kota Kyiv. Namun yang paling mengejutkan adalah penggunaan Oreshnik yang menargetkan infrastruktur kritis di wilayah Lviv, kota yang berjarak hanya 70 kilometer dari perbatasan Polandia, anggota NATO. Serangan Balasan atau Pesan Politik? Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim serangan ini merupakan pembalasan atas dugaan serangan drone Ukraina terhadap kediaman Presiden Vladimir Putin di Novgorod pada Desember 2025. Namun klaim ini ditolak mentah-mentah oleh pihak Amerika Serikat dan Ukraina. Pejabat CIA bahkan menya...

Serangan Israel ke Yaman dan Skandal Tanker Minyak: Ketika Dana PBB Mengalir ke Houthi

serangan Israel ke Houthi

Dalam peta konflik Timur Tengah, tiap titik api tak pernah berdiri sendiri. Seperti bidak catur yang digerakkan dalam senyap, langkah-langkah yang terlihat di permukaan seringkali menyembunyikan permainan yang jauh lebih dalam. Dan baru-baru ini, langkah tragis Israel di Yaman membuka tabir peta konflik yang lebih luas dan lebih kusut dari yang selama ini diketahui publik.

Sebuah Serangan yang Mengundang Rasa Penasaran

Tanggal 8 Juli 2025, militer Israel resmi melancarkan serangan udara ke beberapa target Houthi di wilayah Yaman. Langkah ini diklaim sebagai respons terhadap serangan drone dan rudal yang menghantam pelabuhan Eilat serta jalur pelayaran Laut Merah yang krusial bagi Tel Aviv. Namun yang membuat perhatian internasional benar-benar tercuri adalah bukan sekadar ledakan atau korban—melainkan apa yang ditemukan setelahnya.

Media seperti The Guardian dan Fox News melaporkan adanya investigasi mendalam dari pihak intelijen internasional yang membongkar keterlibatan tak langsung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam mendanai operasi minyak milik kelompok Houthi, termasuk kapal tanker raksasa berbendera Rusia.

Skandal ini mengangkat kembali satu pertanyaan klasik yang tak pernah kehilangan relevansi: siapa sebenarnya yang mendanai perang?

 

Uang PBB, Kapal Rusia, Dan Houthi: Gabungan Tak Masuk Akal?

Dalam penyelidikan yang dipimpin oleh organisasi pengawas independen dan didukung data satelit serta dokumen keuangan rahasia, terungkap bahwa kapal tanker minyak bernama Starlink-10, yang selama ini dioperasikan diam-diam untuk mendanai milisi Houthi, ternyata memperoleh subsidi bahan bakar dan logistik dari program PBB.

Laporan lengkap yang dibocorkan oleh pihak intelijen menyebutkan bahwa dana tersebut masuk melalui skema bantuan kemanusiaan yang seharusnya digunakan untuk proyek pemulihan lingkungan di Laut Merah. Namun, program itu ternyata dimanipulasi agar bisa mengcover ongkos operasional kapal tanker tersebut.

Lebih mencengangkan lagi, kapal tersebut mengangkut minyak mentah senilai lebih dari 90 juta dolar AS—hasil eksploitasi wilayah yang saat ini dijaga ketat oleh jaringan milisi Houthi dan sekutu regionalnya.

“Skema ini amat rapi. Ada perusahaan cangkang di Siprus, kantor penghubung di Uni Emirat Arab, dan perantara Rusia yang memainkan perannya di belakang layar,” kata analis energi dan geopolitik dari Think Tank London Energy Research, dalam laporan yang dirilis Reuters.

 

Tabel: Peta Skandal Tanker Houthi – Siapa Bermain di Mana?

Entitas

Peran

Lokasi Basis

Keterangan Tambahan

Houthi Rebel Group

Operator lapangan minyak ilegal & pengamanan logistik

Yaman Utara

Didanai dari pendapatan minyak mentah

Starlink-10 Tanker

Transportasi minyak ke pasar gelap

Laut Merah & Mediterania

Kapal berkapasitas 300.000 DWT

Perusahaan Cangkang

Penampung dana gelap

Siprus & Malta

Diatur agar lolos dari sanksi internasional

UN RED Sea Program

Saluran dana logistik & subsidi bahan bakar

Markas PBB, New York

Dana dialihkan dari program penyelamatan lingkungan

Rusia (Perantara)

Pendukung teknis distribusi dan jaringan pemasaran global

Moskow & Uni Emirat

Menyediakan kru dan teknologi navigasi kapal


PBB Bungkam, Dunia Bertanya

Ketika dugaan ini mulai viral di media internasional, juru bicara PBB memilih untuk tidak memberikan klarifikasi penuh. “Kami sedang menyelidiki informasi tersebut” menjadi pernyataan resmi pertama.

Sejumlah negara anggota Dewan Keamanan telah mendesak audit penuh terhadap seluruh program bantuan kemanusiaan PBB di Yaman dalam lima tahun terakhir. Hal ini termasuk Amerika Serikat dan Inggris, yang menyoroti potensi penyalahgunaan jutaan dolar dana publik untuk tujuan yang menyimpang jauh dari mandat awal.

Akankah ini menjadi krisis kredibilitas internasional terbesar bagi lembaga global itu? Banyak yang yakin jawabannya mendekati ya.

 

Mengurai Benang Kusut Geopolitik: Siapa Untung, Siapa Terjepit?

Dalam permainan ini, tidak ada pihak yang benar-benar bersih. Ketika minyak mentah menjadi mata uang yang lebih kuat dari dolar dan lebih ampuh dari senjata otomatis, maka siapapun yang berada dalam pusaran konflik bisa saja menjadi penjaja, pembeli, bahkan fasilitator.

Israel, yang melancarkan serangan ke Houthi, bukan hanya ingin menghentikan ancaman rudal dari Yaman. Mereka pun memastikan jalur Laut Merah tetap aman—terutama bagi kapal tanker yang membawa komoditas menuju pelabuhan-pelabuhan strategis mereka. Di sisi lain, Iran yang mendukung Houthi terus memainkan permainan bayangan dengan menyalurkan affiliate funds, senjata, dan strategi atas nama perimbangan kekuatan di kawasan.

Bahkan Rusia dilaporkan sengaja melepas kapal-kapalnya dari radar reguler lewat teknik spoofing signal agar tak terdeteksi di rute Laut Merah hingga ke Laut Mediterania. Mereka tidak bicara soal dukungan langsung ke Houthi, tapi langkah-langkahnya cukup berbicara.

 

Dunia Tidak Lagi Hitam Putih

Yang terjadi bukan hanya tentang perang. Ini perkara ekonomi gelap, manipulasi lembaga internasional, dan persaingan kontrol atas arteri energi global. Keterlibatan berbagai kekuatan dunia menjadikan konflik ini seperti puzzle yang sengaja dirancang tidak utuh—agar tak seorang pun mampu menyusun gambaran sebenarnya tanpa koneksi dan keberanian yang nyaris gila.

Barang siapa menguasai minyak, maka dia menguasai keputusan.
Dan barang siapa bisa mengatur alur bantuannya, bisa pula mengatur siapa lawan, siapa kawan.

 

Apakah Ini Akhir ‘Netralitas’ PBB?

Peristiwa ini—jika terbukti dengan transparansi penuh—bisa menjadi pukulan telak bagi reputasi 'netralitas' PBB. Banyak negara berkembang yang selama ini mengandalkan lembaga internasional untuk bantuan kemanusiaan kini mulai mempertanyakan ke mana sesungguhnya aliran dana mereka mengalir.

Bayangkan jika ternyata proyek pertanian di Sudan atau program air bersih di Somalia juga diam-diam mendanai kelompok bersenjata atau skema minyak ilegal. Maka krisis bukan hanya soal perang, tetapi soal rusaknya kepercayaan publik global terhadap sistem.

 

Apa yang Bisa Dilakukan Pembaca Sekarang?

🔥 Jangan jadi penonton dalam kisah ini. Tanyakan pertanyaan yang sulit. Awasi proyek bantuan yang ada di wilayah Anda, dan periksa apakah ada transparansi nyata—tidak hanya dari PBB tetapi juga dari lembaga donor lokal.

👀 Ikuti terus laporan investigatif dari media independen terpercaya yang berani menggali sisi gelap di balik diplomasi dan konflik.

📣 Bagikan tulisan ini ke jaringan Anda. Memperluas diskusi adalah langkah pertama menuju perubahan.

 

Penutup? Belum Saatnya.

Skandal ini masih berkembang, seperti api kecil yang bisa berubah jadi kobaran besar. Siapa tahu esok, dokumen baru bocor dan mengguncang lagi panggung geopolitik internasional. Satu hal yang bisa dipastikan: dunia kini tahu lebih banyak tentang bagaimana minyak, kekuasaan, dan diplomasi saling menyilang di lautan merah yang kini tak lagi sekadar jalur pelayaran.

Dan di tengah kabut itu, kita semua ditantang untuk melihat: siapa sebenarnya pencipta konflik dan siapa yang diam-diam menuai hasilnya.

 

Punya pandangan berbeda? Atau mungkin informasi tambahan dari lapangan?
Tinggalkan pendapat Anda di kolom komentar. Dunia butuh lebih banyak suara jujur dari mata yang melihat langsung.

Jangan lupa subscribe ke newsletter kami untuk terus menerima analisis mendalam dengan gaya tajam dan informasi yang tak ditemukan di tempat lain. Karena dalam setiap berita besar, selalu ada cerita yang tak dikatakan. Dan kami di sini untuk membedahnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tragedi Berdarah di Bondi Beach: 16 Orang Tewas dalam Serangan Teror saat Perayaan Hanukkah

SYDNEY - Pantai Bondi yang terkenal di Sydney, Australia, berubah menjadi tempat kejadian tragis pada Sabtu sore (14/12/2025) ketika dua orang bersenjata membabi buta menembaki kerumunan yang sedang merayakan hari pertama Hanukkah. Serangan yang terjadi sekitar pukul 18.47 waktu setempat ini menewaskan 16 orang dan melukai 42 lainnya, menjadikannya salah satu serangan massal paling mematikan di Australia dalam hampir tiga dekade terakhir. Detik-detik Mencekam di Archer Park Sekitar 1.000 orang telah berkumpul di Archer Park, area taman bermain di kompleks Bondi Beach, untuk menghadiri acara "Chanukah by the Sea" yang diselenggarakan oleh Chabad of Bondi. Suasana penuh suka cita tiba-tiba berubah menjadi horor ketika dua penembak mulai melepaskan tembakan ke arah kerumunan. Saksi mata menggambarkan kepanikan yang luar biasa. Danielle, seorang warga lokal yang enggan menyebutkan nama lengkapnya, berlari ke lokasi untuk mengambil putrinya yang sedang menghadiri pesta bar mit...

Tragedi Kebakaran Wang Fuk Court: 128 Tewas dalam Kebakaran Terparah Hong Kong Sejak 1948

Kebakaran yang melanda kompleks apartemen Wang Fuk Court di Tai Po menjadi bencana hunian paling mematikan di Hong Kong dalam hampir 80 tahun terakhir. Investigasi mengungkap dugaan kelalaian fatal dan korupsi dalam proyek renovasi bernilai miliaran rupiah. HONG KONG - Asap hitam mengepul tinggi ke langit Hong Kong pada sore hari Rabu, 26 November 2025. Api berkobar dengan kecepatan mengerikan, menelan tujuh dari delapan menara hunian di kompleks Wang Fuk Court, Tai Po, New Territories. Dalam hitungan jam, apa yang dimulai sebagai kebakaran kecil di perancah bambu berubah menjadi malapetaka yang menewaskan setidaknya 128 orang dan melukai puluhan lainnya. Ini bukan sekadar tragedi. Ini adalah kisah tentang kelalaian sistemik, dugaan korupsi, dan harga yang dibayar oleh warga biasa—banyak di antaranya lansia dan pekerja migran—yang percaya bahwa rumah mereka aman. Kronologi Kematian: Dari Api Kecil Menjadi Inferno Pukul 14.51 waktu setempat, Departemen Pemadam Kebakaran Hong Kong me...

Gempa Dahsyat 7,5 M Guncang Jepang, Picu Tsunami dan 51 Korban Luka

TOKYO - Guncangan dahsyat kembali melanda Negeri Sakura. Gempa bumi berkekuatan 7,5 magnitudo mengguncang pantai timur laut Jepang pada Senin malam, 8 Desember 2025, memicu peringatan tsunami dan evakuasi massal sekitar 90.000 warga. Kejadian ini mengingatkan kembali trauma gempa dan tsunami dahsyat tahun 2011 yang meluluhlantakkan wilayah Tohoku. Pusat gempa berada sekitar 80 kilometer di lepas pantai Prefektur Aomori, wilayah paling utara Pulau Honshu, pada kedalaman 54 kilometer. Badan Meteorologi Jepang (JMA) awalnya melaporkan kekuatan gempa mencapai 7,6 magnitudo sebelum direvisi menjadi 7,5. Sementara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia mencatat magnitudo 7,3 dalam analisisnya. Gempa terjadi tepat pukul 23.15 waktu setempat atau 21.15 WIB. Guncangan keras terasa hingga Sapporo, ibu kota Hokkaido, di mana alarm ponsel berbunyi memekakkan telinga untuk memperingatkan warga. Seorang reporter NHK di Hokkaido menggambarkan guncangan horizontal berlangsun...