Langsung ke konten utama

Rudal Hipersonik Oreshnik Hantam Ukraina Lagi: Senjata Mach 10 yang Nyaris Mustahil Dicegat

Dalam eskalasi terbaru konflik Rusia-Ukraina, Moskow kembali meluncurkan rudal balistik hipersonik tercanggihnya, Oreshnik, menghantam wilayah barat Ukraina pada Kamis malam hingga Jumat dini hari, 8-9 Januari 2026. Serangan ini menandai penggunaan kedua senjata kontroversial tersebut sejak pertama kali dipakai pada November 2024 lalu. Serangan masif yang melibatkan 242 drone dan 36 rudal berbagai jenis ini menewaskan sedikitnya empat orang dan melukai 25 lainnya di ibu kota Kyiv. Namun yang paling mengejutkan adalah penggunaan Oreshnik yang menargetkan infrastruktur kritis di wilayah Lviv, kota yang berjarak hanya 70 kilometer dari perbatasan Polandia, anggota NATO. Serangan Balasan atau Pesan Politik? Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim serangan ini merupakan pembalasan atas dugaan serangan drone Ukraina terhadap kediaman Presiden Vladimir Putin di Novgorod pada Desember 2025. Namun klaim ini ditolak mentah-mentah oleh pihak Amerika Serikat dan Ukraina. Pejabat CIA bahkan menya...

Kontroversi di Glastonbury: Polisi Inggris Menyelidiki Komentar Anti-Israel Seorang Rapper

Glastonbury Festival, ajang musik paling prestisius di Inggris, seharusnya menjadi panggung selebrasi budaya dan ekspresi artistik. Tapi akhir pekan lalu, festival ini berubah menjadi titik panas perdebatan global tentang batas kebebasan berekspresi, solidaritas politik, dan pengawasan pemerintah. Penyebabnya: komentar pedas terkait Israel yang dilontarkan secara langsung oleh seorang rapper di tengah pertunjukannya—dan kini polisi Inggris pun turun tangan.

Dalam iklim internasional yang sedang membara, momen ini menjadi lebih dari sekadar kontroversi selebriti. Ini adalah refleksi bagaimana dunia hiburan, politik, dan kebebasan berbicara saling berbenturan dalam lanskap modern yang serba sensitif.


Rapper Inggris di Bawah Sorotan: Siapa, Apa, dan Mengapa?

Pada Sabtu malam, di panggung utama Glastonbury yang disaksikan ribuan penonton dan jutaan netizen lewat siaran langsung, rapper Inggris yang dikenal karena lirik-lirik sosial dan politiknya—Lowkey—melontarkan komentar tajam soal kebijakan Israel terhadap Gaza, menyebut negara tersebut sebagai “rezim apartheid” dan menyerukan perhatian dunia terhadap penderitaan rakyat Palestina.

"Ini bukan hanya festival, ini adalah panggung untuk kebenaran," katanya sebelum menyampaikan lagu yang liriknya penuh sindiran politik. Reaksi dari penonton pun beragam—sebagian berdiri memberi tepuk tangan, sebagian tampak kaget.

Namun yang lebih menghebohkan adalah reaksi dari otoritas. Segera setelah pertunjukan itu viral, Polisi Avon and Somerset mengumumkan bahwa mereka tengah meninjau komentar Lowkey untuk melihat apakah ada pelanggaran hukum, khususnya di bawah Undang-Undang Hasutan Kebencian yang berlaku di Inggris.


Apa yang Dikejar Polisi?

Polisi menyatakan mereka tengah menelaah apakah komentar sang rapper dapat dikategorikan sebagai ujaran kebencian terhadap kelompok etnis tertentu—dalam hal ini, warga keturunan Yahudi.

Menurut penjelasan mereka, proses ini bukan berarti langsung menuju penyidikan, tapi lebih merupakan pengumpulan informasi. Polisi bekerjasama dengan penyelenggara Glastonbury dan melakukan komunikasi dengan Komunitas Yahudi Inggris, yang melaporkan insiden ini sebagai sesuatu yang bersifat ofensif dan menyinggung.

Menariknya, sebagian besar media Inggris menyebut bahwa investigasi ini akan memperhitungkan faktor konteks politis dan seni panggung, bukan semata-mata isi literal komentarnya.


Aturan Main di Inggris: Bebas Bicara tapi Ada Batas

Inggris memiliki rekam jejak panjang dalam menyeimbangkan antara kebebasan berbicara dan perlindungan terhadap ujaran kebencian. Undang-undang seperti Public Order Act 1986 melarang penyebaran kebencian berdasarkan ras, agama, atau orientasi seksual. Namun, hukum Inggris juga memberikan ruang bagi ekspresi seni dan politik—syaratnya tidak menimbulkan ancaman nyata atau menghasut kekerasan.

Dalam kasus ini, pertanyaannya adalah: apakah pidato sang rapper merupakan pandangan politik, atau telah melangkah menjadi serangan terhadap kelompok tertentu?

Ini bukan hal baru dalam dunia panggung. Musisi seperti Roger Waters dan bahkan kelompok hip-hop seperti Public Enemy juga pernah menghadapi tuduhan serupa.


Tabel: Komparasi Kasus Serupa dalam Dunia Musik dan Kebebasan Ekspresi

Nama Artis

Tahun

Isu Kontroversial

Tanggapan Hukum

Lowkey

2024

Komentar Anti-Israel di Glastonbury

Ditinjau oleh Polisi Inggris

Roger Waters

2023

Visual Nazi di konser

Diselidiki otoritas Jerman

M.I.A

2009

Dukungan untuk Tamil Tigers

Dikritik media dan pejabat pemerintah

Public Enemy

1989

Lirik provokatif terhadap sistem

Diprotes stasiun radio dan media


Reaksi Publik: Terbelah Antara Dukungan & Kekhawatiran

Tagar #FreeLowkey mendadak naik daun di media sosial, sebagian besar diisi oleh pengguna yang menganggap bahwa komentar Lowkey hanyalah bentuk kritik terhadap kebijakan pemerintah Israel—bukan anti-Semitisme.

Namun, tak sedikit pula yang melihat aksi tersebut sebagai provokasi berbahaya yang justru mempertegang suasana. Pihak Community Security Trust, sebuah organisasi perlindungan warga Yahudi di Inggris, meminta pihak penyelenggara untuk tidak memberikan ruang bagi “propaganda kebencian.”


Glastonbury: Festival Musik atau Panggung Politik?

Sejak kelahirannya pada 1970, Glastonbury telah menjadi ajang yang tak hanya menyatukan genre musik, namun juga menyuarakan nilai kemanusiaan dan lingkungan. Tapi tahun ini, pertunjukan musik menjadi panggung pernyataan geopolitik.

Penyelenggara Glastonbury hingga kini belum mengeluarkan pernyataan resmi, meski laporan menyebut bahwa mereka tengah mengevaluasi standar artistik dan keamanan untuk festival mendatang.

Yang jelas, festival ini secara tak langsung sedang mempertanyakan ulang: sampai di mana batas antara kebebasan artistik dan tanggung jawab sosial?


Siapa Sebenarnya Lowkey?

Lowkey, atau Kareem Dennis dalam nama aslinya, adalah rapper berdarah campuran Irak-Inggris yang dikenal luas karena kritik sosial dan politiknya dalam lagu-lagunya. Musiknya kerap mengangkat tema imperialisme, kolonialisme, dan ketidakadilan internasional, menjadikannya figur penting dalam ranah musik alternatif politik.

Ia bukan selebriti arus utama, tapi justru karena itulah suaranya dianggap lebih "liar" dan bebas dari sensor arus utama media. Kontroversi ini bisa dibilang bukan yang pertama untuknya—dan hampir pasti bukan yang terakhir.


Apa Artinya Ini Semua Untuk Dunia Musik dan Politik Indonesia?

Bagi pembaca Indonesia, kejadian ini menjadi pengingat bahwa dunia hiburan kini tidak bisa terlepas dari dinamika politik global. Musisi bukan cuma penghibur; mereka pembentuk narasi publik. Dan kritikan terhadap negara seperti Israel bisa berdampak besar, baik secara pribadi maupun hukum.

Dengan sentimen global terhadap isu Palestina yang semakin memanas, komentar seperti milik Lowkey akan terus menjadi bahan bakar perdebatan, tak hanya di London atau New York, tetapi juga di Jakarta atau Yogyakarta.


Bisakah Musik Tetap Netral?

Glastonbury 2025 adalah pengingat bahwa netralitas dalam musik hanyalah ilusi. Ketika dunia serba terhubung dan konflik geopolitik bisa meledak lewat lirik lagu, para musisi harus bersiap jadi politisi—suka atau tidak suka.

Pertanyaannya sekarang: apakah publik akan tetap mendukung ekspresi bebas, atau justru akan menuntut kontrol lebih ketat karena ketakutan akan kerusuhan sosial?

Dan kamu sendiri, sebagai penonton dan pendengar, di mana kamu berdiri?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tragedi Berdarah di Bondi Beach: 16 Orang Tewas dalam Serangan Teror saat Perayaan Hanukkah

SYDNEY - Pantai Bondi yang terkenal di Sydney, Australia, berubah menjadi tempat kejadian tragis pada Sabtu sore (14/12/2025) ketika dua orang bersenjata membabi buta menembaki kerumunan yang sedang merayakan hari pertama Hanukkah. Serangan yang terjadi sekitar pukul 18.47 waktu setempat ini menewaskan 16 orang dan melukai 42 lainnya, menjadikannya salah satu serangan massal paling mematikan di Australia dalam hampir tiga dekade terakhir. Detik-detik Mencekam di Archer Park Sekitar 1.000 orang telah berkumpul di Archer Park, area taman bermain di kompleks Bondi Beach, untuk menghadiri acara "Chanukah by the Sea" yang diselenggarakan oleh Chabad of Bondi. Suasana penuh suka cita tiba-tiba berubah menjadi horor ketika dua penembak mulai melepaskan tembakan ke arah kerumunan. Saksi mata menggambarkan kepanikan yang luar biasa. Danielle, seorang warga lokal yang enggan menyebutkan nama lengkapnya, berlari ke lokasi untuk mengambil putrinya yang sedang menghadiri pesta bar mit...

Tragedi Kebakaran Wang Fuk Court: 128 Tewas dalam Kebakaran Terparah Hong Kong Sejak 1948

Kebakaran yang melanda kompleks apartemen Wang Fuk Court di Tai Po menjadi bencana hunian paling mematikan di Hong Kong dalam hampir 80 tahun terakhir. Investigasi mengungkap dugaan kelalaian fatal dan korupsi dalam proyek renovasi bernilai miliaran rupiah. HONG KONG - Asap hitam mengepul tinggi ke langit Hong Kong pada sore hari Rabu, 26 November 2025. Api berkobar dengan kecepatan mengerikan, menelan tujuh dari delapan menara hunian di kompleks Wang Fuk Court, Tai Po, New Territories. Dalam hitungan jam, apa yang dimulai sebagai kebakaran kecil di perancah bambu berubah menjadi malapetaka yang menewaskan setidaknya 128 orang dan melukai puluhan lainnya. Ini bukan sekadar tragedi. Ini adalah kisah tentang kelalaian sistemik, dugaan korupsi, dan harga yang dibayar oleh warga biasa—banyak di antaranya lansia dan pekerja migran—yang percaya bahwa rumah mereka aman. Kronologi Kematian: Dari Api Kecil Menjadi Inferno Pukul 14.51 waktu setempat, Departemen Pemadam Kebakaran Hong Kong me...

Gempa Dahsyat 7,5 M Guncang Jepang, Picu Tsunami dan 51 Korban Luka

TOKYO - Guncangan dahsyat kembali melanda Negeri Sakura. Gempa bumi berkekuatan 7,5 magnitudo mengguncang pantai timur laut Jepang pada Senin malam, 8 Desember 2025, memicu peringatan tsunami dan evakuasi massal sekitar 90.000 warga. Kejadian ini mengingatkan kembali trauma gempa dan tsunami dahsyat tahun 2011 yang meluluhlantakkan wilayah Tohoku. Pusat gempa berada sekitar 80 kilometer di lepas pantai Prefektur Aomori, wilayah paling utara Pulau Honshu, pada kedalaman 54 kilometer. Badan Meteorologi Jepang (JMA) awalnya melaporkan kekuatan gempa mencapai 7,6 magnitudo sebelum direvisi menjadi 7,5. Sementara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia mencatat magnitudo 7,3 dalam analisisnya. Gempa terjadi tepat pukul 23.15 waktu setempat atau 21.15 WIB. Guncangan keras terasa hingga Sapporo, ibu kota Hokkaido, di mana alarm ponsel berbunyi memekakkan telinga untuk memperingatkan warga. Seorang reporter NHK di Hokkaido menggambarkan guncangan horizontal berlangsun...